Maghriban Dua Kali bersama Masjid Jogokariyan

Maghribannya sih cukup sekali, takjil gratisnya aja yang dua kali. Hehe.

***

Ramadhan kali ini saya berkesempatan lagi untuk main ke masjid Jogokariyan. Terakhir kali ke sana adalah Ramadhan tahun lalu (2017), bareng-bareng para anggota “Ganteng-Ganteng Sasjep ‘15” yang kini sudah berikrar untuk tidak lagi unsend message di platform chat manapun. Bedanya, kalau dulu saya ke Jogokariyan untuk cari buka gratisan, kali ini saya ke sana untuk mencari suasana dan buka gratisan saja.

photo_2018-06-06_14-41-35.jpg
Depan masjid Jogokariyan yang dihias lampion. (dok. pribadi)

Baca lebih lanjut

Iklan

Permisivitas terhadap Pelecehan Seksual, Pelecehan terhadap Akal Sehat Kita

 Biasanya saya membuat postingan yang bercanda, tapi maaf, tidak untuk kali ini.

Beberapa waktu ini linimasa dihebohkan dengan pemberitaan pelecehan seksual secara daring (online) yang dialami oleh Via Vallen. Via mengunggah kejadian yang ia alami, dan menjadi viral. Lalu, seperti biasa, para warganet dengan segala kenaifannya, ya, kok masih ada yang nyinyir. Banyak yang cewek pula. Situ sehat?

Selengkapnya, bisa sampeyan sekalian baca di artikel karya Mas Nuran Wibisono ini. Tabik, Mas.

Baca lebih lanjut

Makan Daging Anjing? Apa Salahnya Sih?

Yang dipermasalahkan itu tindakan mengonsumsi daging anjingnya, atau metode dalam proses penyediaan dagingnya, sih? Kok situ ngatur-ngatur.

Mohon membacanya jangan sambil sepaneng, ya. Hehe.

***

Artikel ini saya tulis sebagai tanggapan untuk artikel WowShack mengenai gerakan para selebritis yang ingin “seluruh Indonesia” bebas dari perdagangan dan konsumsi daging anjing.

Baca lebih lanjut

Jatuh Cinta kepada Linda

0ea5eb0c013029fe1020b6b91da5387c56aae2f2
sumber: http://festivales.buenosaires.gob.ar/2016/bafici/en/pelicula/318/linda-linda-linda

ドブネズミみたいに美しくなりたい
Dobunezumi mitaini utsukushiku naritai

写真には写らない美しさがあるから
Shashin ni wa utsuranai utsukushisa ga aru kara

Kutipan lirik Linda  Linda by The Blue Hearts

***

Saya pernah bercerita kepada teman saya kalau saya tidak suka menonton film ataupun drama Jepang. Tentu saja itu adalah hal yang ironis mengingat saya adalah mahasiswa Sastra Jepang. Namun, saya punya alasan yang cukup kuat untuk tidak menontonnya, yang sebagian besar disebabkan oleh “gaya” penyampaian dan akting (yang cenderung mirip anime) dalam film dan drama Jepang yang kurang cocok dengan saya yang sudah terlalu lama terpapar film-film dan serial televisi barat.

Baca lebih lanjut

Belajar GIMP: Layer Mask

Bulan Desember tahun lalu, saya memutuskan untuk menggandrungi kembali sistem operasi linux dan perangkat lunak open-souce. Hal ini karena saya sudah tidak ada “tanggungan” lagi untuk memakai perangkat lunak edit-edit gambar propetrietary semacam Photoshop dan CorelDraw. Sebagai gantinya, saya menggunakan GIMP untuk mengolah gambar berbasis bitmap, dan Inkscape untuk mengolah gambar berbasis vector.

Saya beralih menggunakan perangkat lunak open-sorce semata-mata ingin berhenti menggunakan perangkat lunak bajakan. Terlepas polemik halal-haram penggunaan perangkat lunak bajakan, yang saya tak punya kredibilitas untuk membahasnya, ‘hijrah’ saya ini lebih karena dorongan kata hati saya (haish) setelah bertemu teman saya yang programmer.

“Asyem, Tur. Sekarang aku ngerasain susahnya jadi programmer. Udah susah-susah, masih dibajak pula. Kan, kucing.”

Gitu katanya.

Selain alasan sok keren itu, saya juga bisa menjadikannya bahan sesumbar, “iki, lho, aku ngedit’e nggo aplikasi gratisan, ora bajakan, hoho.”

Sungguh hina mulia, bukan?

Telepas dari usaha mengurangi bajak-membajak ini, saya masih suka mengunduh film, ebook, maupun musik secara ilegal. Mohon maafkan hamba yang fakir ini, wahai insan industri kreatif di seluruh dunia. Saya akan kurangi sedikit demi sedikit.

Sedikit demi sedikit, lho, ya. Pelarangan minum khamr saja tidak bisa instant, apalagi urusan bajak membajak ini.

Eh, tapi kata Ustadz Felix Siauw hak cipta hanya milik Allah SWT.

Haa mbuh.

Baca lebih lanjut

Mencari Perubahan bersama Ecosia

Perubahan dalam skala global dapat dimulai dengan perubahan kecil dari diri sendiri. Kegiatan yang kita lakukan sehari-sehari, mencari informasi di internet dengan bantuan mesin pencari (search engine) misalnya, jika dilakukan dengan tepat, bisa menjadi satu langkah kecil untuk mengubah dunia.

Hal tersebut bukanlah bualan belaka. Hal inilah yang tengah dilakukan Ecosia, mesin pencari berbasis sosial yang akan menanam pohon saat kita menggunakannya. Iya, Anda tidak salah dengar, ‘menanam pohon’.

Baca lebih lanjut

Internetan Terus, Gedenya Mau Jadi Apa?

“Drrrrt… Drrrrt… Drrrrt,” smartphone Smartfren saya yang tidak smart-smart amat bergetar beberapa kali pertanda ada pesan masuk. Gawai saya akhirnya menunjukkan aktivitasnya setelah beberapa jam terakhir hanya terbujur kaku di atas meja.

Dengan sigap saya menyambar gawai tersebut, berharap akan mendapati pesan dari bebeb Shopee di notifikasi. Namun apa daya, meski pucuk dicinta, ulam tak tentu tiba. Saya justru mendapati pemberitahuan bahwa paket internet saya perlu diperpanjang.

Oke.

***

Baca lebih lanjut