KoorLap: Id, Ego, Superego

photo_2017-11-29_02-49-43.jpg

Semua itu berawal di suatu sore yang lumayan berangin. Angin bertiup kencan ke muka saya, yang kala itu diboncengkan oleh Suigetsu (FYI: sekarang Suigetsu sudah fully booked, sadel belakang kuda besinya sudah susah untuk dipantati oleh orang lain).

Saya masih ingat betul, saat itu saya dan beberapa teman baru saja melaksanakan ibadah sholat ashar setelah seharian melakukan survey lokasi untuk Jajaje (jalan-jalan Himaje), sebuah proker ena-ena milik himpunan mahasiswa Sastra Jepang yang justru sampai saat ini saya belum kesampaian untuk ikutan. *hiks Baca lebih lanjut

Iklan

Teri Tanjung: Sebuah Unboxing

Saya termasuk orang yang jarang pilih-pilih soal makanan. Bagi saya, semua makanan, selama itu halal, berada di kedudukan yang sama. Egaliter pokoknya. Meskipun begitu, tetap saja ada satu-dua hal yang susah meluncur melalui kerongkongan, salah satunya adalah kepala binatang, terutama kepala ikan.

Entah kenapa, memakan kepala ikan bagi saya adalah sebuah tindakan yang mengerikan dan bikin baper.

Lebay banget, kok bisa sampe baper segala?

O, tentu saja. Karena di bagian kepala ikan ada matanya.

Trus?

Mata itu kan jendela hati. Tidak cuma untuk manusia, ikan pun sama. Bisa dibayangkan kamu lagi makan kepala ikan sambil menerawang isi hati si ikan dari celah matanya. Dan di momen saat mata tersebut menatapmu kembali itu, lho… duh… hati ini deg-deg serrr gimana gitu. Ngerti ga sih?

Nga~

Yaudah. Intinya, saya tidak makan kepala ikan, kecuali ikan-ikan tertentu. Dan salah satunya adalah ikan teri. Entah saya yang tidak bisa berempati kepada teri karena ukuran kepalanya yang terlalu kecil, atau karena saya yang terlalu malas untuk memotek kepalanya satu-persatu, biarkan waktu yang menjawab.

Baca lebih lanjut

Cinta yang Baru Saya Ketahui

Bahasa menjadi jembatan bagi umat manusia untuk mengenali dunia. Bahasa mengambil andil yang besar dalam mempengaruhi sudut pandang, pola pikir, hingga keyakinan manusia.

Salah satu contoh sederhananya, saat masyarakat Indonesia kebanyakan hanya memiliki satu kata untuk mendefinisikan butiran uap air berwarna putih bagaikan kapas yang membeku dengan satu kata saja, yaitu “salju”, orang Eskimo memiliki belasan kosa kata untuk hal itu tergantung konteksnya. Tentu saja hal tersebut akan mempengaruhi bagaimana kita melihat benda putih yang mirip es serut itu.

Contoh lainnya, masyarakat Jawa. Orang Jawa memiliki berbagai macam kosa kata untuk mengilustrasikan “jatuh”, mulai dari njlungup, ndlosor, nggeblak, hingga njungkel. Tiap kata itu memberikan kemudahan penggambaran tentang realita “jatuh.”

Tidak hanya hal-hal kasat mata yang bisa digambarkan dengan keberagaman kosa kata. Hal abstrak yang kata orang sulit untuk digambarkan seperti “cinta” misalnya, juga bisa.

flat800x800075f-u5

Baca lebih lanjut

Warkop Cumlaude dan Semangat Pergerakan Kiri

Meskipun saya (sementara ini) berhenti minum kopi, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk main ke salah satu warung kopi hits di dekat area kampus Universitas Indonesia. Warung Kopi itu bernama “Warkop Cumlaude.” Dari namanya saya sudah kental nuansa mahasiswanya, kan? Apakah tingkat kehadiran mahasiswa di tempat ini akan berpengaruh pada prestasi akademiknya?

Tenang~ Itu semua tidak akan saya bahas di sini.

***

Pada petualangan kali ini, saya ditemani oleh (lagi dan lagi) Akbar Rizqi Dhea Habibi.

Sebenarnya tujuan utama kami main ke sana adalah untuk mencari tempat menginap. Karena kebanyakan masjid saat ini digembok setelah sholat isya’, serta warnet dan hotel tidak terlalu bersahabat dengan budget kami, akhirnya kami memilih tempat ini. Baca lebih lanjut

Yang Pertama Yang Istimewa

2016_1121_10272_5121.jpeg

Sebenarnya saya tak tega untuk ikut-ikutan membahas Linkin Park, khususnya mediang Chester Bennington. Yang telah berlalu biarlah berlalu, dan semua yang bernyawa pasti akan menemui ajal.  Dan bagi yang menghujat Mas Chester karena tindakan bunuh dirinya, tidakkah Anda tahu kalau Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah berkata,

“Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan”. (HR. Al-Bukhari no. 6516).

Itu berlaku untuk umat Islam, non-muslim, hingga pentolan sekuler sekaliber Mustafa Kemal Ataturk sekalipun. Adab haruslah dijaga sejak dalam pikiran, bukan.

Baca lebih lanjut

Malioboro dan Pantomim yang Dibubarkan

Karena kemarin lusa gagal nonton Via Vallen, saya jadi lumayan kecewa. Keesokan harinya saya lebih banyak menghabiskan waktu di kost, bukan karena sedih dan meratapi nasib, tapi sibuk benerin rem sepeda.

Malamnya saya pun keluar kandang karena ada keperluan di printshop. Setelah itu, saya tiba-tiba pengen gowes ke Malioboro, sekalian menikmati malam Jogja yang akhir-akhir ini terasa lebih dingin karena rindu angin Muson. Di tempat saya, Tulungagung, hal ini biasa disebut dengan mbediding.

Baca lebih lanjut