Perdana

Pengalaman pertama biasanya menjadi yang paling berkesan.

Kutipan di atas, bisa dibilang, benar-benar terjadi pada saya. Singgahnya saya di Jakarta yang hanya beberapa belas jam malah harus berakhir dengan celana panjang yang dilipat sepaha, sepatu basah ditenteng di tangan, dan yang paling buruk, hape dalam kondisi empty-bat.

Ini sebenarnya adalah sebuah super-late-post, kejadiannya berlangsung beberapa bulan yang lalu. Akan tetapi, tidak ada salahnya bagi saya untuk sedikat mengarungi waktu karena ini adalah PENGALAMAN PERTAMA SAYA BERTEMU DENGAN BANJIR DI JAKARTA (maaf untuk caps-lock dan bold-nya.)

Saat saya tiba di Jakarta pada pagi harinya, semua masih tampak normal. Hanya ibukota yang sedang dirundung hujan, pikir saya. Semuanya berubah saat saya sedang ada di dalam busway menuju arah Harmoni (sempat salah duduk di Area Khusus Wanita, pula :S). Bus yang saya tumpangi tiba-tiba melambat, sontak membuat para penumpang jadi tertarik melongok ke jendela. Terlihat dengan jelas air sudah menggenang kira-kira setinggi lutut. Banjir.

image

image

image

image

image

image

Di sini, saya tidak canggung untuk mengambil foto karena sebagian besar penumpang yang lain juga melakukan hal serupa. Awalnya, saya tidak terlalu khawatir, toh setelah transit di Harmoni saya bakal naik busway lagi ke arah Gambir. Gampang.

Allah berkehendak lain, rupanya. Koridor untuk busway arah shelter tujuan saya ternyata ditutup gara-gara banjir. Saya tanya ke bapak petugas soal cara alternatif ke sana, bapaknya bilang kalau taksi atau ojek sekalipun bakalan “ogah” buat nganter (kecuali dengan ongkos lebih, dan itu yang saya tidak punya *bokek). Melihat muka saya yang kusut, bapak itu mengusulkan agar saya berjalan kaki menembus banjir. Sebuah ide yang gila jenius. JALAN KAKI NEMBUS BANJIR (sekali lagi, maaf untuk caps-lock dan bold-nya.)

Pintarnya, saya ikuti ide bapak tadi. Dengan modal nekat, payung mini yang selalu saya bawa saat bepergian, dan hape dalam posisi low-bat, saya berangkat menyusuri lautan keruh Jakarta.

Perjalanan saya tak berjalan semudah yang  dibayangkan; terseok-seok sambil bertelanjang kaki; terantuk batu di sana-sini; hampir tercebur selokan; membawa tas ransel yang berisi sepatu, pakaian ganti, dan dokumen-dolumen yang tidak boleh sampai basah; memegang payung di tangan kiri, hape dengan Google Maps aktif di tangan kanan; ditambah dengan guyuran hujan yang belum reda juga dari pagi hari. Di tengah beratnya perjalan mencari kitab suci ke stasiun Gambir ini, setelah mencapai daerah yang tidak terlalu tinggi airnya, saya sempatkan untuk mengambil beberapa gambar. Lumayan, lah, sebagai oleh-oleh buat keluarga di kampung.

image

image

image

Beberapa puluh menit saya berjalan, dan, YATTA, saya akhirnya tiba di stasiun Gambir. Badan saya gatal-gatal disebabkan terkena air yang kotor. Namun, sebagai warga negara yang baik, saya tidak mandi di WC umum karena ada larangannya *bangga. Jadi, saya memilih untuk berganti pakaian saja.

Duduk di ruang tunggu stasiun menjadi kegiatan saya selanjutnya. Bertanya pada diri sendiri dalam hati (saya tidak tahu harus bertanya ke siapa):

“Jakarta adalah ibu kota Indonesia, wajah dari negara ini. Menjadi prioritas utama dalam segi pembangunan dan perbaikan. Indonesia sudah mencurahkan 69 tahunnya untuk anak manja yang satu ini. Akan tetapi, kok masih banjir juga? Hujan yang seharusnya menjadi berkah malah jadi musibah. Bisa dibilang ini terjadi karena ada yang tidak beres dengan sistem negaranya, pemimpinnya, sistem pengairannya, atau mungkin, rakyatnya???”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s