Ki Hadjar Dewantara dan Tetangga Saya

image

Ketika saya memutuskan untuk mebgambil beasiswa dan melanjutkan sekolah SMP di Semarang, sontak tetangga-tetangga saya bersilat lidah mengomentari, “halah, kowe wong Tulungagung wae sok-sokan sinau adoh-adoh. Sekolah ora usah duwur-duwur. Ora ono gunane, malah ngrepoti wong tuwo.”
Yang kalau diindonesiakan kurang lebih menjadi: “Alah, kamu orang Tulungagung sok belajar jauh. Sekolah ga usah tinggi-tinggi. Ga ada gunanya, malah ngrepotin orang tua.”

Saya tahu dan sadar bahwa ucapan mereka berlandaskan fakta kalau di Tulungagung banyak yang bisa sukses dapet duit tanpa harus sekolah tinggi-tinggi (nunggu warisan, misalnya). Ditambah lagi banyaknya para sarjana yang masih kesusahan mencari  kerja, membuat mereka semakin skeptis akan faedah pendidikan.

Sepertinya, tetangga saya tidak tahu kalau  jauh lebih banyak orang yang mengubah nasibnya gara-gara pendidikan. Dari seorang pelajar miskin menjadi CEO; anak penerima BPJS menjadi dokter spesialis; atau bahkan, pemuda yang tiap harinya makan raskin menjadi eksportir beras.

Berbeda dengan tetangga saya yang lebih memprioritaskan hartanya untuk beli moge dari pada bayar SPP anaknya, salah satu sosok teladan kita, Ki Hajar Dewantoro selalu percaya bahwa pendidikan bisa membawa bangsa ini menuju kejayaan. Dengan mendirikan Taman Siswa, beliau ingin agar bangsa pribumi bisa mengecap pendidikan seperti para priyayi Belanda pada masa kolonial dulu.

Semangat dan kerja keras beliau bisa kita jadikan api yang akan membakar bara semangat kita. Menjadi motivasi untuk terus belajar, terus teguh berjalan menuju menentang terjalnya kebodohan.

Sek, sek, sek!!!

“Yen ra duwe duwik, bayar sekolahe nggo opo? Godhong?” (Klo ga ada uang, bayar sekolahnya pake apa? Daun?) Ini menjadi salah satu argumentasi andalan tetangga saya.

Pendidikan tidak harus dengan sekolah atau pendidikan formal. Bisa juga kita mendapat ilmu dari belajar sendiri, pengalaman, ataupun setumpuk buku-buku bekas. Selain itu, saya optimistis bahwa kita, pemerintah dan seluruh bangsa Indonesia ini terus berusaha agar semua orang bisa mendapat kesempatan mengenyam pendidikan secara adil. Tak peduli dia kaya, miskin, miskin banget, atau amat sangat miskin.

Sebagai penutup, saya mengutip kata-kata ibu saya (kalau tidak salah) yang beliau katakan saat saya kehilangan semangat setelah gagal mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, “pendidikan bukanlah garis akhir ataupun tujuan. Pendidikan adalah salah satu jembatan yang bisa membawa kita ke sisi lain. Sisi di mana kita lebih berkesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik, berguna bagi sesama, dan mulia, baik di dunia maupun di akhirat.”

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s