Selamat Jalan, Bagus Abi

Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. (QS. Al-Imran [3]:185)

image

Seperti kutipan ayat di atas, sudah pasti, kudu, dan harus, bahwa tiap-tiap yang pernah hidup akan mati. Yang menjadi masalahnya sekarang adalah BAGAIMANA kita akan meninggalkan dunia ini.

Seseorang bisa meninggal dunia saat di tengah sholat tahajud. Ada juga yang meninggal ketika narkoba mengalir di tubuhnya. Akan tetapi, baik buruknya cara meninggal belum tentu akan menentukan nasib kita di akhirat kelak. Bisa saja seorang preman yang tengah mabuk mati karena jatuh terpeleset di tempat wudhu musholla pas ingin membersihkan kakinya yang menginjak tai ayam.  Mungkin juga seorang kiai terkena serangan jantung dan meninggal di tempat saat menceramahi orang-orang di warung remang-remang.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa menilai seseorang berlandaskan prasangka atau yang dari yang kasat mata saja tidak selalu benar. Allah SWT maha mengetahui dan lebih mengetahui perihal hambanya.

***

Saya pernah “kehilangan” seorang sahabat. Seorang kakak kelas, teman ngobrol, main, debat, curhat. Kami tidak selalu sepemikiran, sering terjadi pro dan kontra. Namun, saya tahu bahwa di balik badan kecilnya tersimpan visi yang besar, impian dan niat untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.

Kurang lebih setahun yang lalu, dia membuat pilihannya sendiri. Memilih untuk bergabung dengan sebuah kelompok militan di Timur Tengah, Syria untuk mengangkat senjata. Saya TIDAK TAHU apakah cara yang dia tempuh BENAR atau SALAH. Walau sebenarnya saya tidak setuju dengan tindakkannya, saya tidak punya hak untuk menghakimi di wilayah yang “abu-abu” ini. Yang saya tahu, dia berangkat dengan keyakinan dan semangat yang tulus demi kebangkitan umat. Sayangnya, itu tidak akan berarti jika dilakukan dengan cara yang salah, bukan?

Hari ini saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa saya telah benar-benar “kehilangan” sahabat saya. Kabarnya ia tewas tertembak tanggal 30 April lalu. Saya tidak sedih, lebih tepatnya, terlalu bingung untuk sedih. Tidak tahu harus bereaksi apa. Terlalu banyak hal yang terjadi dan berlalu. Lenyap hanya dengan beberapa butir peluru yang menembus kulit.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

Mengenyampingkan cara berjihad yang ia pilih dan segala hal yang telah dia kerjakan di sana dan di dunia, sebagai seorang teman saya hanya ingin berdoa semoga Allah memberikan tempat yang paling layak untuknya di sana. Allah Maha Adil lagi Maha Mengetahui yang terbaik bagi hambanya.

Untuk terakhir kalinya, saya ucapkan selamat jalan kepada Wijangga Bagus Panulat. Perjalanannya di terjalnya jalan setapak dunia ini sudah menemui penghujungnya. Semoga kepergiannya menjadi pengingat bagi kami-kami yang masih hidup ini, ada jalan setapak terjal yang masih harus kami lalui.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s