Nggelandang: Sisi Lain Simpang Lima

Dua setengah jam perjalanan dengan bus ekonomi dari Pekalongan membawa saya mendarat di daerah simpang lima, Semarang. Waktu setempat menunjukkan pukul ba’da isya’ (ini jam daerah mana). Atas dasar penghematan (alasan yang sama yang membuat saya menembus banjir Jakarta di postingan ini), saya memilih untuk nggelandang di simpang lima karena jam segitu sudah tidak ada angkot lagi yang menuju ke arah Gunung Pati (tempat saya tinggal saat post ini ditulis) dan butuh merogoh kocek cukup dalam untuk memakai jasa taksi ataupun ojek.

image

Kata “nggelandang” sebenarnya adalah istilah yang saya dan teman-teman saya pakai untuk menjelaskan “kegiatan bertindak seperti gelandangan”, semisal: tidur tak tentu tempat, berjalan tak tentu arah, yang pastinya tidak sambil minta-minta. Bisa juga ditafsirkan sebagai “backpacking tanpa persiapan.”

Untuk nggelandang kali ini, saya memilih untuk bermalam di spot yang cukup terkenal, yaitu di (teras) Masjid Baiturrahman karena pintu masjid bakal dikunci kalau malam. Pastinya saya tidak akan sendirian. Sudah banyak yang menggelar “dipan” di sana. Setelah menyimpan hape, dompet, dan barang berharga lainnya baik-baik di dalam tas, saya beranjak tidur. Saya tidur beralaskan sarung yang selalu saya bawa jalan-jalan untuk mereduksi dinginnya lantai ubin.

Saya terbangun jam dua dini hari dan langsung berburu makanan untuk sahur puasa Senin-Kamis setelah sholat tahajud. Untungnya saya menemukan warung emperan yang masih buka dengan harga tak terlalu mahal untuk ukuran simpang lima. Masalah perut pun beres.

Sambil menunggu adzan subuh, saya berjalan-jalan di sekitar situ dan mendapati pemandangan yang jarang saya lihat. Simpang lima yang di siang harinya selalu penuh dengan hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang, di malam harinya dalam kondisi sepi sampai-sampai orang bisa menyeberang jalan sambil moon walk tanpa harus takut tertabrak.

Saya pun mengabadikan momen ini dengan kamera hape saya yang baterenya sudah low-bat.

image
Night life at Simpang Lima! Not that glamourous, eh?
image
Seorang pengayun becak tengah istirahat dengan gaya "like a boss".
image
Bisa nyeberang jalan tanpa perlu noleh kiri-kanan.
image
Kalau punya mata batin, mungkin saya bisa lihat tuyul lagi lari-larian.
image
Seorang pahlawan yang selalu berusaha menjaga lingkungan kita bersih tengah bertugas.

Kehidupan malam sering dikonotasikan dengan “ajeb-ajeb, lombok-lombokan, dsj.” Akan tetapi, yang kali ini saya saksikan adalah situasi yang benar-benar menenangkan. Sunyi, tenteram, tanpa kebisingan. Kondisi yang sudah pasti disukai oleh orang yang kecilnya di kampung macam saya.

Keasyikan muter-muter, saya jadi lupa kalau beberapa saat lagi adzan subuh dikumandangkan. Saya bergegas kembali ke masjid.

Seusai sholat dan mendengarkan kuliah subuh dari imam, saya berjalan ke jalan Pandanaran. Mencegat angkot yang pergi ke arah Karang Ayu yang subuh-subuh begini tengah sibuk mengangkut pedagang dan dagangannya ke pasar. Mengakhiri nggelandang saya. Melanjutkan perjalanan…

… ke Gunung Pati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s