Ngilmiah Bentar: Kabar Baik VS Kabar Buruk

image
Hayooo... pilih yang mana???

Setelah postingan ga mutu yang saya tulis sebelum ini, saya berniat menebusnya dengan postingan yang lebih ilmiah, lebih berisi, dan terlihat lebih cerdas daripada postingan-postingan sebelumnya. Kali ini saya mengangkat tema psikologi (salah satu tema favorit saya) yang saya usahakan menggunakan penyampaian yang sederhana agar mudah dimengerti oleh diri saya sendiri.

***

“Jadi, ada kabar baik dan kabar buruk.”

Kalimat pembuka seperti ini biasanya akan membuat deg-degan, apapun topiknya. Hal seperti itu akan makin kerasa kalau diucapkan oleh orang penting atau seorang dokter. Pernyataan ini biasanya diikuti dengan pertanyaan:

Mana yang ingin kamu dengar lebih dahulu, kabar baik atau kabar buruk.

Penilitian baru-baru ini menyatakan kalau penerima-kabar cenderung memilih kabar buruk lebih dulu. Juga ditemukan bahwa jika keputusan ditentukan oleh pemberi-kabar, penerima-kabar tidak selalu mendapatkan urutan sesuai yang mereka inginkan.

Pakar psikologi, Anna Legg dan Kate Sweeny (keduanya bukan teman saya) dari Universitas California, memutuskan untuk menjawab pertanyaan klise tersebut dan melihat apakah pemberi-kabar ingin memberi kabar baik atau kabar buruk lebih dahulu. Mereka juga mencari tahu apakah urutan penyampaian juga akan berpengaruh pada perasaan penerima-kabar.

Awalnya disiapkan 121 pasang mahasiswa sebagai bahan percoban. Tiap pasangnya akan ditentukan siapa yang akan menjadi penerima dan pemberi-kabar. Mereka tidak tahu-menahu soal siapa yang akan jadi pasangan mereka sebelumnya. Semua mahasiswa lalu mengerjakan tes yang didesain untuk  menilai “5 aspek kepribadian dasar”: conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism, dan openness. Setelah itu, seorang penguji akan memberi tahu mereka bahwa hasil ujiannya telah keluar, dan ada kabar baik dan kabar buruknya. Misal, seorang mahasiswa punya jiwa kepemimpinan yang bagus, tapi di sisi lain ternyata dia sangat egois.

Pada kenyataannya, tesnya tidak benar-benar dinilai (ngeselin banget ga, tuh), dan para mahasiswa tidak akan mendapat kabar baik dan buruk yang asli. Mereka hanya harus memilih kabar apa yang mereka inginkan lebih dahulu. Untuk para penerima-kabar, penguji menanyakan apa yamg mereka ingin dengar lebih dulu dan alasannya. Tugas mereka hanya menerima kabar. Sedangkan untuk para pemberi-kabar, penguji menugaskan mereka untuk memberitahu hasil hasil tes kepribadian tersebut, dan menanyakan mana yang ingin mereka sampaikan beserta alasannya.

Menggunakan kelompok yang berbeda untuk tes yang baru, penguji akan benar-benar memberikan hasil tes kepribadian mereka. Dengan kabar baik atau kabar buruk lebih dahulu, dan menanykan seberapa cemas mereka mengenai hal tersebut. Penguji juga meneliti apakaj dengan menyuruh pemberi-kabar untuk memikirkan perasaan penerim-kabar akan mengubah urutan dari kabar yang akan disampaikan.

Hasilnya (eng.. eng.. eng…), kita cenderung untuk mendapat kabar buruk lebih dahulu. 78% dari mahasiswa yang diuji ingin mendengar kabar buruk lebih dahulu. Ini konsisten dengan hasil penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Akan tetapi, sebaliknya, seberapapun kita menginginkannya, kemungkinan besar kita tidak akan mendapankan itu karena 54-68% pemberi-kabar memilih untuk menyampaikan kabar baik terlebih dahulu. Saat para pemberi-kabar disuruh untuk berempati kepada penerima kabar, persentase dari yang memberi kbar buruk dahulu meningkat, meskipun efeknya tidak terlalu besar. Jadi, meskipun kita ingin kabar buruk dahulu, mereka belum tentu memberikannya.

Apakah dengan mendapat kabar buruk dahulu akan memberi perbedaan? Legg dan Sweeney menyiqpkan kelompok ketiga untuk dibagi menjadi dua kelompok yang akan mendapat kabar buruk atau kabar baik lebih dahulu, dan menilai seberapa cemas mereka sebelum dan sesudah mendapat kabar tersebut. Kedua kelompok menunjukkan peningkatan rasa cemas, tak peduli bagaimanapun urutannya. Akan tetapi, pahitnya pil lebih mudah diobati: mahasiswa yang menerima kabar buruk lebih dahulu berkahir dengan rasa cemas yang lebih rendah daripada yang mendapat kabar baik lebih dulu.

Mungkin, kabar buruk dulu lah yang seharusnya diberikan. Penulis percaya bahwa hasil ini bisa digeneralisasikan untuk berbagai tipe kabar buruk, baik yang disampaikan dokter ataupun calon-mantan-kamu (weleh).

Saya tidak terlalu yakin soal itu. Bisa dibilang, menerima kabar kalau kamu seorang yang brengsek adalah suatu hal, dan mendapat kabar kalau kamu mungkin mengidap kanker adalah hal yang benar-benar berbeda. Aapakah itu akan berubah jika kabar itu menyangkut masyarakat umum atau hal yang tidak personal? Apakah akan berbeda jika kita mendapat kabar yang kita bisa melakukan sesuatu untuk mengatasinya? Pada akhirnya, kita bisa membentuk jiwa kepemimpinan dan mencoba untuk lebih peduli pada orang lain. Sayangnya, ada beberapa jenis kabar buruk yang kita benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa soal itu.

Apalagi, di semua kasis ini, para mahasiswa dipasangkan dengan orang yang tidak mereka kenal sebelumnya. Bagaiman itu akan mengubah cara kita memberi atau menerima informasi? Apakah kita akan menginginkan urutan yang berbeda jika menerima dari orang yang kita kenal dan percaya, atau dari orang yang kita hormati, dokter misalnya?

Saya juga ingin tahu mengapa kita menginginkan kabar yang buruk lebih dulu. Saya sering diberi tahu untuk menerima kabar buruk dulu. Analoginya, telan dulu pol pahitnya, lalu obati dengan segelas teh manis. Apakah saya percaya hal itu gara-gara hal itulah yang diajarkan ke saya? Ini menjadi pertanyaan yang menarik dan belum terjawab di penelitiqn kali ini. Bisa jadi, untuk bahan penelitian selanjutnya.

Kesimpulannya, kabar buruk lebih dahulu: mungkin ini tidak berlaku untuk semua jenis kabar buruk. Kabar baiknya? Kita dan 78% dari orang-orang yang menjalani tes benar-benar ingin mendapat kabar buruk lebih dahulu.

***

Uwaaaah…
Kedua jempol ini rasanya udah linu (ngetiknya di hape, laptop rusak soalnya. Curhat)

Sebagai tambahan, biar bisa kelihatan makin ilmiah dan tidak dibilang asal ceplas-ceplos, saya sertakan link referensinya. Oke sip.

1. https://www.sciencenews.org/blog/scicurious/do-you-want-good-news-or-bad-news-first
2. pages.uoregon.edu/sanjay/bigfive.html
3. m.psp.sagepub.com/content/early/2013/10/30/0146167213509113.abstract

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s