Menilai Karimunjawa

Kesempatan untuk pergi ke Karimunjawa lumayan membuka mata saya tentang Indonesia. Di mana keindahan alam masih bisa dijangkau dengan mudah karena lokasinya masih di daerah Jepara, Jawa Tengah. Lumayan dekat dengan tempat saya tinggal.

Perjalanan dari Jepara menuju ke pulau utama Karimunjawa kira-kira memakan waktu dua jam dengan kapal cepat, dan enam jam dengan kapal feri. Kebetulan kali itu saya pergi menggunakan kapal cepat di kelas ekonomi. Membuat saya terpaksa berjubel dengan kerumunan penumpang yang lain.

Untungnya, semua itu terbayar dengan jernihnya laut yang menyambut. Diiringi juga dengan hawa panas dan aroma laut yang khas. Saya dan beberapa teman perjalanan selama beberapa hari kedepannya sibuk mengisi waktu dengan hal-hal setandar yang biasa dilakukan di Karimunjawa (bisa dilihat di berbagai macam situs travelling).

Perlu diingat bagi para pelancong wisata alam kutipan di bawah ini:

Jangan ambil apapun kecuali gambar.

Maka, di sini saya akan berbagi gambar-gambar yang berhasil saya ambil sendiri dan juga sedikit review soal perjalanan saya.

Kita mulai dari sisi baiknya dulu. (Meski bertentangan dengan keinginan orang kebanyakan, di mana orang lebih suka mendengar yang buruk lebih dahulu).

A. YANG ENAK

1. Pemandangannya
image

image

image

image

image

2. Kegiatannya

image

image

image

image

image

image

image

image

3. Cari tahu sendiri…

Ga ada salahnya kan…

B. YANG KURANG ENAK

Sekarang, giliran yang kurang bagusnya (Ga bakal ada fotonya, dan cuma review tulisan buat sesi yang satu ini). Tapi, tenang saja. Saya tidak akan membahas soal sarana dan prasarana ke dalamnya. Mengingat Karimunjawa terletak di pulau terpisah. Hal itu mempersulit aksesnya untuk fasilitas sehari-hari (listrik atau harga yang mahal misalnya).

1. Sampah

Saya banyak mendapati sampah bertebaran di san-sini. Hal itu merusak estetika alam yang ada.
Semiaua orang juga sudah ngeh kalau ini sudah menjadi masalah paling umum di Indonesia. Jadi, tak perlu dibahas panjang lebar.

2. Kurangnya Perikehewanan

Pada awalnya saya ngebet banget ingin foto dengan hiu (biar bisa dibuat pamer dan dicap “pemberani”). Tapi, sesampainya saya di tempat penangkaran, situasinya ternyata benar-benar tidak kondusif bagi keberlangsungan hewan yang sering dicap “jahat” ini. Orang-orang berjubel untuk antri foto. Ada yang menceburkan diri ke kolam penangkaran, mendekati hiu, bersiap untuk bergaya. Sebaliknya, para hiu malah berenang ketakutan melihat “keberingasan” anak-anak adam ini. Menjadi bukti bahwa film JAWS penuh dengan dusta.

Melihat semua itu, saya memilih untuk pergi. Mengurungkan niat saya. Tidak jadi dicap “pemberani”, demi kemaslahatan antara binatang dan manusia.

3. Kegiatannya (lho?)

Memang di sana kita bisa melakukan kegiatan seru semacam snorkling, main pasir, jalan-jalan di alun-alun, foto-foto apa kek, dll. Tap ya, itu-itu saja. Jika kita terlalu lama di sana malah akan membawa kejenuhan, apalagi manusia sekarang, terutama anak muda, cenderung ingin hidup yang dinamis. Ngeluyur sana-sini. Mencoba hal-hal yang baru terus-menerus.

***

Untuk saat ini mungkin segitu saja yang bisa saya review. Sekali lagi saya ingatkan bahwa penilaian ini bersifat subjektif, akan berbeda dari orang ke orang. Kesimpulan umumnya, Karimunjawa adalah tempat yang layak untuk dikunjungi. Apalagi, bagi anda yang tengah jenuh dengan rutinitas kota. Bisa menikmati keindahan alam, merasakan tenangnya hidup semi-terisolasi akan menjadi pengalaman tersendiri.

Iklan

Satu pemikiran pada “Menilai Karimunjawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s