#NulisRandom2015 : Almamater

Masa-masa SMA saya di Kayseri berisi banyak kenangan indah yang patut diingat. Akan tetapi, jauh lebih banyak kenangan buruk yang layak dijadikan bahan renungan, atau bahkan, dilupakan. Seringkali, saya mencemooh atau membuat guyonan dari sekolah tempat saya pernah menimba ilmu. Menjadikannya bahan tertawaan bersama dengan teman-teman yang mengalami nasib serupa dengan saya.

Hal ini cukup bagi saya sebagai penghipur lara, obat bagi tumpukan rasa kecewa, dan pelampiasan dari rasa ketidakpuasan selama empat tahun di sana. Ya, semuanya berjalan terus seperti itu. Saya kecewa, mencela, menertawakan, terhibur.

image

Namun, siapa sangka, dengan kejadian kecil pandangan buruk pada sekolah saya bisa berubah. Ketika itu saya sedang duduk manis mendengarkan sebuah seminar, dan pembicaranya secara eksplisit memberikan beberapa pernyataan yang tidak enak didengar mengenai sekolah saya. Biasanya saya akan tertawa. Tapi, tidak untuk kali ini. Saya hanya bisa tersenyum getir.

Saya kurang begitu mengerti. Bgaimana bisa cemoohan yang sama, saat dilontarkan bersama teman-teman saya jadi begitu menghibur, tapi sebaliknya, jika diucapkan oleh pihak ketiga jadi begitu menyakitkan? Apa karena pihak ketiga tadi tidak tahu esensi dari apa yang dia ucapkan, tidak merasakan dan berniatkan hal yang sama dengan apa yang saya pikirkan? Atau jangan-jangan…

SAYA TELAH MENGANGGAP SEMUA ITU SEBAGAI BAGIAN DARI JATI DIRI. MENJADIKANNYA ALMAMATER YANG MELEKAT PADA SERPIHAN EKSISTENSI SAYA.

Kenangan baik atau buruk, pilihan salah maupun benar, semuanya menyatu dan menjadikan apa yang ada dalam diri saya sekarang. Menurut saya, “orang luar” yang tak tahu apa-apa, tak memiliki serpihan entitas yang sama, tak punya hak untuk berkomentar, apalagi mencela. Apalagi mencela.

Mungkin saya terdengar egois dan subjektif. Tapi, tidak sadarkah bahwa sebagian besar dari kita akan seperti itu? Orang-orang yang seringnya mengumpat-umpat negara ini, Indonesia, juga akan marah jika ada warga negara lain menghujat. Manusiawi.

Saya tidak berniat melakukan pembelaan untuk almamater saya karena memang faktanya seperti itu. Yang membuat saya bingung adalah betapa abstraknya konsep cinta dan benci. Membuat satu fakta yang serupa bisa ditanggapi dengan cara yang sama sekali berbeda tergantung dari mulut siapa yang hal itu keluar.

Hmm…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s