#NulisRandom2015 : Fermi Paradox

Gelapnya malam tak akan indah bila tak dihiasi dengan taburan bintang-bintang. Bagi yang tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari kota dan masih belum terjamah polusi cahaya, menatap langit bisa menjadi keasyikan tersendiri.

Dengan kondisi malam terbaik, hanya sekitar 2500 bintang saja yang bisa kita amati dalam satu waktu dengan mata telanjang. Itu pun baru 1/100 juta dari jumlah bintang yang ada di galaksi kita. Jaraknya juga tidak lebih dari 1000 tahun cahaya (cuma 1% dari diameter Bima Sakti).

Kemegahan kosmik ini kadang membuat kita bertanya-tanya. Sebuah pertanyaan klasik, memang, tapi layak untuk disinggung.

Apakah ada kehidupan lain di luar angkasa sana?

Tokoh utama di postingan ini, Enrico Fermi, memikirkan hal yang agak berbeda.

Di mana semua orang?

, Fermi Paradox

***

image
Where is everybody?

Daripada langsung meluncur menuju hilir, alangkah baiknya kalau kita lihat dulu hitungannya. Tenang saja, semuanya sudah disederhanakan untuk memudahkan pembaca.

Hitungan

Jumlah bintang di galaksi Bima Sakti adalah 100-400 miliar bintang, dan ada sejumlah galaksi yang sama di observable universe (alam semesta yang bisa diamati). Jadi, ada satu galaksi untuk tiap bintang di galaksi kita.

Dunia sains memang tak selalu sepakat dengan berapa bintang yang mirip matahari (sun-like star), yaitu bintang yang memiliki suhu, kecerahan, dan ukuran yang mendekati matahari. Tapi, dari hasil hitungan terakhir, terdapat 5%-20% dari total bintang di alam semesta (sekitar 500 miliar miliar) yang mirip matahari.

Di antara bintang-bintang yang mirip matahari tersebut, ada sekitar 22% yang diorbit atau dikelilingi dengan planet yang mirip dengan bumi (earth-like planet) dalam hal karakteristik sehingga memiliki potensi untuk menunjang kehidupan. Itu memberikan kita 100 miliar miliar planet yang mirip bumi (1% dari observable universe).

Spekulasi

Bersikap spekulatif, itu lah hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini. Siapkan imajinasi kalian, karena akan ada banyak pengandaian yang menanti.

Mari kita mulai.

Coba bayangkan, setelah milyaran tahun dari terciptanya alam semesta, di 1% dari planet-planet yang mirip bumi itu berkembang kehidupan. Lalu, 1% dari planet-planet tersebut berhasil mengembangkan teknologi semaju milik kita. Hasilnya, akan ada 10 juta miliar peradaban cerdas yang ada di alam semesta.

Jika hitungan itu kita pakai di galaksi Bima Sakti saja, akan ada 1 miliar planet mirip bumi dengan 100 ribu peradaban.

Ironi

Umat manusia punya SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence), sebuah lembaga yang bekerja untuk mencari sinyal-sinyal keberadan peradaban-perdaban cerdas lain di luar sana. Dan jika asumsi dari spekulasi kita benar, harusnya SETI bisa menangkap paling tidak, satu saja tanda dari keberadaan mereka.

Sayangnya, itu tidak pernah terjadi. Tidak ada sinyal yang pernah tertangkap. TIDAK SAMA SEKALI.

Yang akhirnya membawa kita pada…

Paradoks

Matahari dan tata-surya kita terhitung amat sangat muda untuk ukuran alam semesta. Jauh lebih banyak bintang yang mirip matahari yang diorbit oleh planet yang mirip bumi di luar sana, dan secara teori mereka seharusnya sudah amat sangat maju dubandungkan kita.

Asumsikan, ada planet X, memiliki laju perkembangan teknologi yang sama dengan bumi, berumur 8 miliar tahun (bumi berumur 4.54 miliar tahun). Berapa jauh perkembangan iptek antara kita dengan mereka? 1000 tahun saja sudah membawa perubahan yang drastis bagi peradaban. Apalagi dengan beda miliaran tahun.

Dengan perbedaan yang sejauh itu (dengan asumsi mereka memiliki laju perkembangan iptek yang sama dengan kita), harusnya kita bisa mendapati keberadaan mereka karena teknologi mereka harusnya sudah lebih dari cukup untuk itu.

Anehnya, fakta berkata lain. Bisa dilihat dari hasil kerja SETI yang sepertinya tidak belum membuahkan hasil. Hal itu lah yang menggelitik Fermi untuk mengemukakan paradoksnya.

Di mana semua orang? Iya. Di mana?

Terpilih

Di agama saya diajarkan bahwa manusia adalah ciptaan yang paling sempurna. Kita dipilih untuk memimpin bumi (alam semesta) ini. Tersirat bahwa kita lah satu-satunya peradaban cerdas di alam semesta ini.

Jika diperhatikan dari fakta yang ada, dari paradoks milik Fermi, dan juga dari dalil-dalil agama, saya pribadi lebih bisa menerima dengan akal sehat bahwa kita lah satu-satunya yang terpilih. Atau, paling tidak, menjadi yang terdepan. Soal UFO, alien atau semacamnya, saya tidak mau ambil pusing. Toh, belum ada buktu empirisnya dan datang dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Media dan Salah Fokus

Industri hiburan menjadi salah satu pembentuk pola pikir kita. Efeknya bahkan bisa lebih besar dari pendidikan sendiri.

Bisa dilihat dari film-film yang membahas tentang alien, UFO, makhluk super yang semakin menjamur. Membuat orang-orang mulai “terbang dari tanah”, melupakan apa yang seharusnya kita jaga. Bumi yang kita pijak ini.

Lucunya, bukan menjaga bumi dari kehancuran yang disebabkan oleh polusi, global warming, ataupun kerusakan lain karena ulah manusia, kita malah berniat “lari”, mencari tempat kabur yang baru untuk memenuhi ketamakan kita.

Saya bukanlah orang yang mengerti sains. Tapi, saya tahu satu hal. Bahwa sains TIDAK SELALU BENAR. Sains adalah proses kita untuk mengerti alam semesta. Jangan malah alam semesta yang kita paksa agar mau sesuai dengan sains.

Saya yakin dengan tidak adanya kehidupan cerdas di luar penciptaan manusia. Bahwa manusia adalah makhluk terpilih. Diciptakan untuk menjaga dan memimpin makhluk-makhluk lainnya. Pernyataan ini akan saya pegang terus sampai ada “bukti” konkrit yang menyatakan sebaliknya

Sambil menunggu bukti itu muncul (yang sepertinya tidak akan), mari kita berpikir sejenak.

Sudahkah kita menjadi pilihan yang baik?

Referensi:
waitbutwhy.com/2014/05/fermi-paradox.html

N.B. : Saya pertama kali membaca tentang Fermi Paradox dari satu passage yang ada di soal ujian SAT.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s