Menunggu Bersamanya

Pasar Karang Ayu sudah menunjukkan gelagatnya. Pembeli berlalu-lalang ditemani sorakan promosi dan tawaran dari para pedagang. Bedanya, promosi mereka tak dibubuhi dengan ‘tanda bintang’ kecil terselubung.

image

Saya? Saya sedang duduk-duduk di pinggir jalan di seberang pasar, menunggu angkot arah Gunung Pati. Namun, hari masih terlalu pagi, memaksa saya untuk menungu lebih lama lagi, sendirian.

Untungnya, itu tidak berlangsung lama. Saya mendapat teman nongkrong. Dia menghampiri saya perlahan. Saya sempatkan untuk mengambil beberapa fotonya.

image

image

image

image

Kami berdua hanya menatap jalanan sambil memperhatikan dalam diam kendaraan yang berseliweran. Saya menunggu angkot, dan dia, entah sedang menunggu apa. Saya tidak berusaha untuk mengajak ngobrol teman saya ini karena ingat nasihat orangtua untuk tidak ngobrol dengan ‘orang asing’.

Saya sudah cukup beruntung bisa mendapat teman untuk menunggu karena salah satu hal yang paling tidak disukai adalah menunggu. Apalagi, menunggu sendirian. Beberapa saat berlalu, kebersamaan kami harus berakhir di sini. Angkot yang saya nanti sudah tiba, saya pun melanjutkan perjalanan.

Ceritanya biasa-biasa aja? Ya, memang begitulah adanya. Akan tetapi, sesuatu yang luar biasa bisa saja muncul dari hal-hal yang dianggap biasa. Kisah ini bukan salah satunya.

N.B.: Kisah ini mengambil latar waktu setelah kejadian di postingan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s