Sastra dan Kualitas Galau

Sudah lumayan lama saya tidak ngepost. Kali ini saya mau berbagi soal galau dan romans. *WOOOO (Ini termasuk topik yang sangat jarang saya bahas)

Jadi, kemarin saat saya membaca karya Tere Liye yang berjudul Eliana (termasuk bacaan yang saya rekomendasikan secara pribadi dan sebagai pecinta alam), saya dapati sebuah puisi yang dicantumkan di sana. Untuk lebih jelasnya, bisa disimak di bawah ini.

image

***

Penerimaan
Maret 1943 oleh Chairil Anwar

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

***

Untuk saya yang bukan belum (insya Allah sebentar lagi) jadi orang sastra, puisi bukanlah makanan saya sehari-hari. Tapi, saya menyadari sesuatu yang menarik perhatian saya.

Untuk sebuah karya yang galau, puisi ini memaksa saya berpikir dan mencerna baik-baik?

Hah, kok bisa?

Ada banyak yang membuat saya ter, apalagi pada baris

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Sambil mengerutkan dahi, saya coba untuk googling sejenak (internet kadang kurang bisa dipercaya, tapi mengingat lokasi perpustakaan yang susah diakses, saya tetap menjadikannya sebagai referensi). Hasilnya cukup memuaskan. Saya mendapat banyak paradigma mengenai salah satu karya Chairil Anwar ini. Salah satunya di blog ini.

Yang membuat saya kagum adalah bagaimana seseorang bisa mengolah kegalauannya menjadi sebuah karya yang tidak hanya indah, tapi juga mengajak kita berpikir. Tanpa mengurangi rasa hormat saya sedikitpun, bisa bandingkan dengan karya-karya galau jaman sekarang, misal:

Kau sakiti aku, dustai aku…
Aku tanpamu butiran debu…
atau
Sudah terlalu lama ku sendiri…

Indah di telinga (bagi sebagian besar orang), tapi seperri ada yang kurang. Tidak ada yang menggelitik rasa ingin tahu dan pemikiran. Terlalu blak-blakan. Hanya mengundang komentar (saya), “Terus, kalo gitu, kenapa?”

Memang tidak semuanya seperti itu, ada banyak karya yang masih bisa “menggelitik”, kok. Saya sendiri, untuk lagu-lagu Indonesia, lebih suka karya-karya tahun 70-90’an dan awal tahun 2000’an. Semua itu kembali ke selera masing-masing. Sebagian besar seniman (seringnya disebut artis) Indonesia sekarang mungkin juga terpaksa mengikuti permintaan pasar, keinginan publik, selera orang awam.

Uniknya, puisi-puisi luar biasa seperti Penerimaan karya Chairil Anwar ini pada jamannya juga menjadi santapan umum dan menjadi konsumsi kegalauan publik. Publik jaman dulu tidak hanya plonga-plongo, ngresula dan sok merasa jadi yang “paling tersakiti di dunia” menghadapi kegalauan, mereka juga aktif, secara dinamis berpikir, mengolah kegalauan mereka. Melihat beda kualitas hasil kegalauan jaman dulu dan sekarang, mengangkat satu pertanyaan di benak saya, “Hanya sampai taraf inikah kualitas kegalauan publik indonesia saat ini?”

Maafkan bila ada salah kata. Diskusi yang baik dan bermanfaat akan sangat diapresiasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s