SASTRA JEPANG: Banting Setir Gradual

EDAN!
Eh? Ga salah pilih lu?
Yakin ngambil jurusan itu?
Bukannya dulu kamu anak IPA?
Lha, fisikamu mau dikemanain?
Ini pasti gara-gara Jeketi, ya, kan?
Propaganda ISIS, Yahudi, sama Amerika, nih…

Ini adalah beberapa ekspresi orang-orang yang kenal lama, yang baru kenal, atau yang kenal orang yang kenal saya saat saya bilang ke mereka pilihan jurusan saya untuk jenjang kuliah. Emangnya jurusan apa yang saya ambil?

Eng… Ing… Eng….
*Cue the drum

image

Sastra Jepang, YAY…!

Hmm… Apa ekspresi kalian juga 11-12 sama beberapa reaksi yang saya rangkum di atas? Kalau begitu, ada baiknya saya memberikan klarifikasi, pernyataan, penjelasan, atau apalah yang mungkin bisa memberikan ketenangan di hati para kenalan saya ini.

LOGIKA

Saya hampir selalu mengandalkan logika dan akal sehat dalam menyikapi segala hal (ga sampai jadi mu’tazilah yang pasti). Dan percayalah. Ini adalah pilihan terlogis yang bisa saya buat.

Ini semua berawal dari saat saya berada di jenjang SMA. Saat-saat inilah yang bisa dibilang “sekolah tak mau, keluar pun tak sanggup.” Di garis waktu hidup saya yang ini saya merasakan untuk pertama kalinya kehilangan semangat belajar yang amat signifikan. Setiap jam pelajaran yang berlalu bagaikan denting metronom. Kiri-kanan-kiri-kanan. Hanya berlalu. Tak ada yang menarik, tak ada yang patut diperhatikan.

Ini bukan berarti saya tidak menjalani sekolah dengan tidak serius. Karena setahu saya, nilai saya masih bisa dibilang “lumayan” untuk ukuran manusia biasa. Hanya saja pada waktu itu saya menganggap taman kota dan warnet menjadi tempat yang lebih menarik dan inspiratif daripada ruang kelas.

Untuk mengisi kekosongan bangku kelas dan menghibur kejenuhan pikiran saya, saya melakukan hal-hal ga penting (belajar desain layout dan mengolah gambar, bahasa Jerman, bahasa Jepang, ningkatin kemampuan bahasa Inggris, merhatiin isu politik, nyinyir pemerintah, dll.) Hal-hal yang ga bakal mendongkrak nilai rapor saya satu biji pun.

Hal ini terus berlanjut sampai tahun terakhir saya SMA. Cukup mengenaskan karena waktu itu saya masih berniat untuk ambil jurusan teknik industri. Saya berhasil diterima di salah satu universitas untuk jurusan teknik industri. Namun, pada akhirnya saya malah tak jadi kuliah karena alasan yang sebaiknya tidak usah saya sebutkan. Dan… saya pun “nganggur” selama satu tahun, (padahal sudah “nunggak” setahun) YAY! (Lho, kok malah seneng?)

Berhubung pas SMA dulu saya ada pelajaran filsafat (ini berguna banget, lho. Bahkan lebih berguna daripada “teori” evolusi Darwin atau “teori” bumi datar), saya jadi hobi merenung (biasanya sambil tidur(an) atau baca komik), mencoba berbagai macam paradigma sampai saya tiba pada satu pertanyaan, “Minat dulu atau bakat dulu?” 

Ini sebenarnya pertanyaan yang susah-susah gampang tapi sepertinya belum pernah muncul di Ujian Nasional.

Karena soal ini lah saya mulai bertanya pada diri sendiri. Apa yang saya suka? Ternyata saya suka akan banyak hal. Banyak. Banyaaaak *iklan. Lalu saya tanyai lagi diri saya. Apa yang saya bisa dari apa yang saya suka. Karena ternyata saya ga bisa apa” semua pilihan itu pun gugur.

Lalu saya ganti pertanyaannya. Dari semua yang saya suka, mana yang walaupun saya susah sekali untuk bisa, saya bakal tetap berusaha melakukannya? Dan dengan sistim eliminasi à la Sherlock Holmes, saya mendapat  pilihan terakhir itu. Yup, Sastra Jepang, YAY…!

HALUAN

Yang menjadikan kenalan-kenalan saya bingung adalah “banting setir”nya saya yang dari seorang anak EKSAKTA menjadi seorang pendulang SASTRA.

Mohon diketahui, hal ini sebenarnya bukanlah sebuah banting setir karena prosesnya lebih lama dari yang dibayangkan. Bertahun-tahun. Banyak variabel yang tersangkut paut satu sama lain, bertemu probabilitas-probalitas ajaib, jadilah diri saya dan pemikiran saya yang sekarang. TA~RA~!

Jadi, ini seperti banting setir, tapi secara gradual (ada gitu, ya?). Hanya beberapa orang yang kenal saya dengan baik yang bisa mafhum soal ini kayaknya.

KECEWA

Apakah saya pernah kecewa dengan pilihan yang saya buat? Ya. Saya pernah amat sangat KECEWA dengan pilihan yang saya buat. Hal itu bahkan berdampak nyaris permanen ke diri saya.

Tapi hal itu sudah tak ada artinya lagi. Rasa kecewa ada karena insting alami manusia yang memang selalu menginginkan hal yang lebih baik bagi dirinya dan itu menjadi bukti bahwa saya masih memiliki semangat untuk menjadi yang lebih baik sebagai manusia. Dengan saya memilih Sastra Jepanh, saya berusaha berdamai dan bahu membahu dengan rasa kecewa saya saat SMA dulu agar saya menjadi individu yang lebih baik.

Oke, setelah penjelasan pembuka di atas (eh, masih pembukaan?!) akhirnya sampai juga pada alasan sesungguhnya kenapa saya memilih Sastra Jepang

Jeng…..

ALASAN

Karena saya suka dialek Kansai. Udah gitu aja.
Eh, ada lagi. Kuliah bahasa biayanya murah. Cocok buat kantong saya.

Pragmatik sekali. 😐

***

Untuk kalian yang masih belum puas dengan alasan saya tadi, tidak ada salahnya baca referensi di bawah ini.

Bacaan seru soal SASTRA JEPANG.

Bacaan seru soal SASTRA JEPANG juga.

NB: Postingan ini saya persembahkan untuk teman saya yang masih trauma dan tengah bergelut dengan rasa kecewanya.

Iklan

4 pemikiran pada “SASTRA JEPANG: Banting Setir Gradual

  1. Saya juga punya track-record demikian, omong-omong. SD dan SMP saya pecinta mati pengetahuan umum dan sosial, lalu di akhir masa SMP hingga akhir SMA saya selalu mengikuti lomba menulis (artikel, LKTI, sampai sastra) dan seni. Di SMA saya anak IPA, olimpiadenya Komputer. Lalu kuliahnya Sastra.

    Saya tidak (atau mungkin: belum) menyesal, hanya saja terkadang mengeluh karena merepotkan orang lain (orang tua, tentu) dengan ambisi saya yang tidak pasti. Setidaknya, hanya satu pegangan saya: Kalau sudah menjalani, ya jalani saja. Tuntaskan. Itu tanggung jawab yang ada di pundak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s