Tafsir Al-Judulli

image

Di era modern, terutama di Indonesia di mana sebagian besar orangnya terlihat terburu-buru tapi jarang ada yang tepat waktu, orang terbiasa menafsirkan sesuatu cuma dari judulnya. Disebabkam oleh kebiasaan ini, banyak yang mempublikasikan tulisannya (termasuk saya) dengan judul-judul yang heboh, twisted, bahkan rancu demi menarik minat pembaca. Hal ini seringkali juga dimanfaatkan oleh media mainstream untuk menggiring opini masyarakat. Ini beberapa contohnya:

Cinta Tanah Air, Anak Ini Baca Qur’an dengan Bahasa Indonesia

sesuai EYD

Yang baca akan, “Aih… Patriotik sekali anak ini…” bilang begitu tanpa tahu fiqhnya.

Atau judul seperti ini:

Sekolah Itu Ga Penting. Titik.

Yang baca langsung mikir, “Iya, ga penting, tuh. Mang XXX yang ga lulus TK aja bisa jadi presiden sekarang.”
Padahal bisa jadi di dari tulisan tersebut mengajak kita merenung tentang konsep sekolah dan pendidikan.

Terlepas dari carut marut opini dan midinformasi yang mungkin terjadi karena tafsir kilat yang cuma dengan melihat judulnya, saya cuma bisa bersyukur. Bersyukur untuk apa? Bersyukur karena para mufassir seperti Imam Syafi’i atau Abu Hanifah tidak memakai cara tafsir yang sama dengan kebanyakan dari kita sekarang ini. Akan susah untuk dibayangkan jika Imam Syafi’i ingin membuat tafsir Al-Baqarah, terus beliau bilang, “Ah… Cuma surat tentang sapi-sapian…..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s