#JurnalLinuxKu: #2 Opsi

Diversifikasi

Ini adalah postingan lanjutan dari seri #JurnalLinuxKu yang sebelumnya, di mana saya berusaha untuk beralih dari pengguna proprietary software menjadi pengguna open-source software.

Bicara mengenai ekosistem open-source, kita akan terbentur dengan banyaknya pilihan yang ada karena kebebasan dalam penggunaaa, pengembangan maupun penyalinan source-code yang ada. Begitu juga halnya dengan sistem operasi berbasis linux. Akan ada banyak “rasa” yang berbeda-beda, yang biasa disebut “distribution” atau “distro,” yang nantinya bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kemampuan dalam mengutak-atik komputer masing-masing. Situs Distrowatch sedikit banyak akan bisa membantu PDKT bagi kalian yang pengen lebih tahu soal keragaman dalam dunia per-distro-an.

Bagi kaum awam yang belum terlalu mengerti seluk beluk sistem operasi berbasis linux, beberapa distro yang mengincar pasar end-user semacam Linuxmint, Ubuntu, elementary OS, bisa menjadi pilihan yang tepat. Bagi kalangan menengah, ada distro semacam openSUSE, Fedora, Manjaro. Sedangkan bagi kaum mas*kis, ada Archlinux,  yang bisa membuat “pusing pala barbie”, bahkan saat baru memulai proses instalasinya.

Pilihan Hati

Saat SMA dulu saya sebenarnya adalah seorang Distro-Hopper, istilah untuk orang yang suka gonti-ganti linux distro (untung bukan gonta-ganti pasangan), dan sudah lebih dari 50 kali laptop lama saya (namanya Terra) sudah diinstall ulang.

Waktu pun berlalu. Dengan laptop baru (namanya Sora), saya harus menentukan pilihan yang tepat bagi “dia.” Saya sudah coba berbagai macam distro, denga berbagai target pengguna, pada akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Xubuntu sebuah derivatif dari Ubuntu.

Alasan pertama, karena kesibukan saya yang ga habis-habis (sok), tidak memunkinkan bagi saya untuk utak-atik distro njelimet semacam Archlinux, jadi saya lebih memilih distro yang siap pakai tapi juga tidak terlalu banya aplikasi bawaan semacam Linuxmint. Jatuhlah pilihan saya pada ubuntu dan derivatifnya.

Dari pilihan yang ada, saya memilih Xubuntu karena performa dan interface (tampilan) yang diberikan sangat cocok dengan laptop (dengan spesifikasi mirip netbook) dan cara saya mengopersikan komputer. Ini desebabkan oleh Xubuntu yang memakai XFCE, sebuah desktop environment, “pemberi cita rasa” utama bagi sebuah distro, yang ringan dan tidak perlu terlalu banyak memakan system resource.

Memang sistem opersai berbasis linux cenderung bisa diutak-atik sesuka hati, namun tampilan visual yang diberikan Xubuntu secara default sudah lebih dari cukup untuk memuaskan mata saya.

Screenshot_2015-12-26_12-29-03
Tampilan Desktop
Screenshot_2015-12-29_10-59-35
Mirip sama Windows, memudahkan para pengguna baru.

Beberapa poin di atas kurang lebih bisa menjelaskan kenapa saya menjatuhkan pilihan ke Xubuntu. Tapi, ini juga tak terlepas dari personal perference, dan sebenarnya masih ada yang lain, tapi itu terlalu teknikal dan layak untuk mendapatkan pembahasan di postingan tersendiri.

じゃあ、またね。

Iklan

2 pemikiran pada “#JurnalLinuxKu: #2 Opsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s