#JurnalLinuxKu: #7 Aplikasi Alternatif Part 2

Menindaklanjuti postingan sebelumnya yang harus terhenti di tengah jalan, postingan ini akhirnya dibuat (sekuel ceritanya…). Baiklah, mari kita lanjutkan…

VECTOR-BASED IMAGE EDITING PROGRAM – INKSCAPE

inkscape_02.png
image source: valo-cd.net

Bagi yang biasa menggunakan CorelDRAW atau Adobe Illustrator, Inkscape bisa menjadi pilihan yang tepat. Interface yang familiar dan tutorial yang mudah ditemukan di mana-mana juga akan memudahkan pengguna yang baru hijrah. Secara keseluruhan, kualitas dan fitur yang ditawarkan oleh aplikasi ini sudah sangat warbyasah.

Lho, terus apa bedanya Vector-Based dan Pixel-Based? Silakan baca artikel ini.

Lanjut…

3D COMPUTER GRAPHICS PROGRAM – BLENDER

Blender_Version_2.570
image source: en.wikipedia.org

Hands down, menurut pendapat pribadi saya, ini adalah salah satu proyek open-source paling niat yang pernah ada. Melihat fitur-fiturnya yang ada membuat saya bingung, bagaimana bisa aplikasi sekeren ini bisa kita dapat secara GRATIS dan BEBAS (さすがFOSS).Bagi yang tak sanggup merogoh kocek dalam-dalam demi mendapat Autodesk MAYA, aplikasi ini bisa menjadi pilihan yang cerdas.

VIDEO-EDITING PROGRAM – LIGHTWORKS & BLENDER (lagi?)

6988
image sourec: http://www.afterdawn.com

Lightworks, meskipun bukan berbasis open-source, masih berbaik hati menawarkan versi yang bisa diunduh secara gratis. User Interface mirip dengan aplikasi video-editing pada umumnya. Mudah dipelajari dan tutorialnya juga mudah didapat. Saya sendiri memakai aplikasi ini untuk kebutuhan tugas dan sejenisnya. Beberapa film terkenal semacam The Wolf of Wall Street, LA Confidential, Pulp Fiction, Heat, Road to Perdition, Hugo, The King’s Speech memakai aplikasi ini dalam proses editingnya.

Blender? Iya, Blender. Liat alasannya di sini.

Lightworks memang menjadi preferensi utama, namun jika anda seorang purist yang cuma mau memakai aplikasi open-source murni, Blender menjadi jawabannya. Fitur yang ada sudah cuku mumpuni, hanya saja workflow-nya masih agak rumit (bagi saya) dan memerlukan banyak pembiasaan.

KALAU TIDAK BISA MOVE ON DARI APLIKASI PROPRIETARY – WINE

office-2007-on-linux-wine
image source: superknife.tk

Ini menjadi pilihan terakhir jika memang susah untuk menemukan aplikasi padanan dari versi proprietary yang ada. Cara kerjanya jadi semacam emulator untuk aplikasi Windos di Linux. Kekurangannya, kadang performa aplikasinya menjadi tidak semaksimal seperti jika dipakai di Windows.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s