Mediang Heath Ledger, The Joker, Pembaperan Diri, dan Sebuah Klarifikasi

Saya paling lemah dalam urusan menulis romansa. Entah karena buruknya track record saya soal itu atau karena memang itu bukan ranah yang cocok bagi saya untuk bekecimpung di dalamnya.

Lalu saya kepikiran sebuah proyek di mana saya mencoba untuk mengubah kepribadian saya, menyesuaikannya dengan apa yang hendak saya tulis. Hal ini sma dengan apa yang dilakukan oleh aktor/aktris saat memerankan sesuatu yang sama sekali bukan dirinya. Contohnya, mediang Heath Ledger, orang yang bertanggung jawab atas kerennya dan luarbiasnya tokoh The Joker yang dia perankan, mengurung dirinya sendiri di dalam kamar selama sebulan demi mendapatkan“mood” yang sesuai dengan tokoh yang akan dia perankan.

Bagaimana jika itu saya terapkan, bukan dalam bidang akting, melainkan pada bidang kepenulisan. Berhubung saya sangat lemah dalam penulisan prosa-prosa romantis dan bernuansa romantis, saya “harus” mengubah itu sedikit demi sedikit.

Dari situlah semuanya dimulai…

Cara tergampang untuk membawa nuansa baper itu adalah dengan mengumbarnya di media sosial. Dimulai dari situ, saya mulai merasakan feelnya. Komen-komen yang berdatangan, sugesti-sugesti dari postingan baper di internet. Semuanya.

Saya juga menambahnya dengan mendengarkan lagu-lagu baper, baik yang bertemakan ketragisan ditinggal pacar, hikayah miris anak jomblo, maupun cinta yagn bertepuk sebelah tangan. Range lagu yang saya dengar juga mulai dari yang khas anak jaman sekarang sampai dengan yang klasik seperti pada “jaman saya”.

Lalu, saya lanjutkan itu di dunia nyata. Memang tak semudah saat di aplikasikan di dunia maya, tapi dampak yang dihasilkan jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Dampaknya?

Positifnya, setelah terseret arus kebaperan itu saya jadi lebih mudah dalam menulisakan hal-hal yang berbau menye-menye. Semuanya serasa mengalir begitu saja.

Negatifnya, saya sempet kurang fokus dan kurang tidur karena terlalu banyak variabel janggal yang harus diperhitungkan. Serta isu-isu yang berseliweran bahwa saya sedang ada “sesuatu”, wkwkwkwkwkwk…

Hell, man! Let’s put an end to this 🙂

Konklusinya, cara ini terbukti efektif, sangat efektif mungkin bagi saya. Tapi dengan dampak negatif yang tidak main-main juga.

Intinya, saya meminta maaf jika ada yang salah paham, ikut terbaperkan, atau malah jijik gara-gara proyek pembaperan diri saya. Postingan ini menjadi klarifikasi bahwa saya masih lah seorang yang menjunjung tinggi adanya bukti empiris dalam bertindak.

Satu lagi yang saya pelajari, rasa cinta tidak untuk diumbar-umbar di sosial media. *Ea 😀

Iklan

2 pemikiran pada “Mediang Heath Ledger, The Joker, Pembaperan Diri, dan Sebuah Klarifikasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s