Bukalapak Mampir ke Kampus Kerakyatan

Bukalapak, sebuah situs jual beli online, bekerja sama dengan BEM FEB UGM mengadakan sebuah seminar entrepreneurship dengan tema “Meraup Uang di Pasar Online Terbesar di Indonesia.” Tidak adanya jam kuliah pada saat itu, propaganda nyeleneh yang pernah dilakukan CEO-nya yang masih nyangkut di ingatan, dan perut yang kosong menjadi faktor pendorong terbesar bagi saya untuk menyambangi kegiatan ini.

Seminar berlangsung di Gedung Purna Budaya UGM, yang sekarang menjadi PKKH (Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri) pada hari Jum’at, 18 Maret 2016. Saya tiba di venue tepat pukul 08.00, dan langsung disambut dengan antrian panjang registrasi peserta seminar. Setelah melakukan daftar ulang di kesekretariatan, saya mendapat snack (gratis, dong :)) dan kupon yang nantinya bisa ditukar dengan goodies dari pihak Bukalapak.

Seminar Entrepreneurship Bukalapak 1
Totebag penuh propaganda

Venue terasa sekali ke-Bukalapak-annya, dengan backdrop besar di bagian belakang panggung bertuliskan BL UTS, judul dari seminar ini, Buka Lapak Usaha Tinggal Selangkah, dengan nuansa warna merah keungu-unguan (atau ungu kemerah-merahan?) mendominasi. Nuansa warna itu diperkuat  dengan mondar-mandirnya panitia yang memakai kaos dengan warna senada dan bertengger tulisan “bukalapak” pada bagian depannya.

Sebagian besar peserta adalah mahasiswa UGM yang datang dari berbagai macam fakultas. Ada juga beberapa yang berasal dari kalangan umum. Saya kira hanya saya anak Sastra Jepang yang datang ke acara tersebut. Ternyata, secara tidak sengaja saya bertemu dengan Raju dan Mariska, teman seperjuangan saya di FIB.

Kurang lebih pukul 09.00, untuk mengawali acara sekaligus sebagai ice-breaker, ada penampilan dari Economic Session Band, band akustik dari FEB UGM. Mereka membawakan lagu-lagu bernuansa baper kekinian santapan generasi muda saat ini, walau dengan sedikit lupa-lupa liriknya dan harus satu-dua kali menyontek dari layar gawai pintar mereka.

Selesai sesi ice-breaking, dua orang MC memasuki panggung untuk secara resmi membuka acara. Lucunya, MC tidak mau memulai acara dahulu sebelum deretan bangku terdepan terisi semua oleh peserta karena masih banyak slot yang kosong. Peserta seakan enggan, atau was-was jika harus mengisi bangku terdepan (termasuk saya sendiri :|). Apa ini karena semboyan “Tut Wuri Handayani” yang sudah terlalu lama melekat di sanubari kita? Allahu ‘alam. Intinya, MC membujuk, bahkan, secara bercanda, akan memanggil pihak keamanan untuk menyeret peserta yang duduk di baris paling belakan dan mendudukkan mereka ke baris terdepan.

Pada akhirnya, baris terdepan pun terisi semua. Mungkin mereka cuma malu-malu kucing. Tipikal mental anak muda (atau anak UGM?). Seakan butuh inisiasi, enggan untuk membuat pergerakan lebih dulu, beraninya main kode-kodean, giliran kode tak tersampaikan malah baper seharian butuh dorongan dari pihak luar. Setelah masalah bangku kosong ini teratasi, acara pun memasuki sesi utamanya.

Seminar Entrepreneurship Bukalapak - MC
Om Weli (baju coklat, kiri) dan Om Satya (Blazer Hitam) sebagai pembicara.

Pembicara pertama, Om Satya Budi, berasal dari staff Bukalapak. Sebagian besar dari topik presentasi Om Satya adalah penjelasan mengenai Bukalapak itu sendiri; Latar belakang munculnya Bukala[ak, visi dan misi mereka, sampai apa yang membedakan Bukalapak dengan produk-produk pesaingnya. Mirip seperti sebuah iklan, atau sosialisasi agar peserta seminar lebih mudeng soal Bukalapak.

Sedangkan pembicara kedua, Om Weliyan Tanoyo, salah seorang pelapak sukses di Jogja, lebih memfokuskan presentasinya mengenai keuntungan dan kemudahan yang didapat dari berbisnis online, terutama menggunakan media Bukalapak. Pembawaan Om Weli (begitu sekiranya  beliau ingin dipanggil) yang membumi dan terkesan “polos” membuat penyampaian materi tidak terasa menggurui. Presentasi diakhiri dengan Om Weli membagikan tip dan trik memulai bisnis online tanpa modal (ya, modal teman doang, soalnya).

Setelah serius (sebenarnya santai) memperhatikan presentasi dari kedua pembicara, suasana dicairkan kembali dengan game dari pihak panitia. Peserta, dibagi dalam dua regu, berlomba untuk panjang-panjangan, membuat kereta-keretaan dengan barang-barang yang mereka bawa atau melekat di tubuhnya, mulai dari tali sepatu, ikat pinggang, sampai kaos kaki mereka gunakan. Regu yang menang mendapat souvenir dari pihak panitia.

Seminar Entrepreneurship Bukalapak - Game
Game adu panjang-panjangan

Acara pun bergulir ke fase berikutnya, yaitu sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan, namun ada satu yang juga mengganjal pikiran saya, yaitu “dari mana Bukalapak mendapatkan keuntungannya?” Ternyata jawabannya ada beberapa cara. Yang pertama, Bukalapak sebagai pemberi jasa bagi proses jual-beli tentu saja meminta komisi, yang di sini berupa kode unik, yang akan kita dapatkan saat proses transaksi. Misalnya barang dengan harga Rp50.000,00 sudah termasuk ongkir, dalam biaya pembayarannya akan menjadi Rp51.000,00 (ini hanya permisalan, angkanya bisa beragam). Seribu rupiah di sini adalah biaya jasa kepada buka lapak karena telah memberikan fasilitas kemudahan bertransaksi online. Cara lainnya adalah dengan penawaran fitus “push” sebuah fitur mirip “sundul, gan” di forum Kaskus di mana produk yang kita push akan besar kemungkinannya untuk muncul dalam bagian atas ataupun halaman depan kolom pencarian di Bukalapak. Fitur push ini harus dibeli dengan tarif tertentu. Yang ketiga, adalah penwaran dari Bukalapak untuk mengiklankan produk kita secara eksklusif, baik di media cetak, elektronik, maupun online, semua tergantung permintaan.

Sesi tanya jawab mengakhiri rangkaian acara dari seminar entrepreneurship dari Bukalapak ini. Economic Session Band kembali ke atas panggung untuk mengiringi kepergian peserta. Saya juga unjuk diri, mempersiapkan diri untuk sholah Jum’at.

Ah.

Satu poin lagi untuk disampaikan, ada pesan dari Om Weli yang masih nangkring di kepala saya, kurang lebihnya begini, “Menjadi pengusaha bikin ringan jodoh.” Ya, itu menurut saya adalah motivasi terbaik yang saya dapat dari seluruh rangkaian acara ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s