Nasihat Cinta dari Sebuah Transaksi Gorengan

Pagi tadi, saya serba terburu-buru. Mulai dari mandi, pakai baju, sampai berangkat ke kampus pun juga terburu-buru. Alhasil, saya tidak ada waktu untuk melakukan ritual pagi saya, sarapan. Sebagai gantinya, saya mampir ke penjual nasi kuning yang ada di dekat kontrakan.

Di sana, saya dapati seorang pria, usia kerja, tengah berdiri di depan warung nasi kuning itu. Wah, antrinya panjang, begitu pikir saya. Meskipun begitu, saya langsung menerobos masuk ke dalam warung, toh, cuma mau beli gorengan. Di dalam warung, ibu penjual nasi kuning tengah melayani seorang perempuan yang kira-kira seumuran dengan pria yang antre di luar.Saya, secara butu-buru juga, mengambil gorengan secukupnya, baik cukup sebagai pengganjal perut, maupun cukup sesuai isi dompet, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik yang semoga saja BPA free. Saya lalu membayar gorengan itu ke ibu penjual yang sudah menuntaskan urusannya dengan perempuan tadi.

Ternyata, laki-laki yang berdiri di luar tadi tidak sedang mengantri, tapi sedang menanti perempuan yang tadi beli nasi kuning. Mereka pergi meninggalkan warung dengan sepeda motor, yang perempuan memboncengkan yang laki-laki. Sebelum saya secara terburu, lagi, meninggalkan warung itu, ibu penjualnya malah mengajak ngobrol saya (membicarakan orang lain, jika dilihat dari substansinya).

“Mas, itu, lho liat mbak yang tadi (perempuan yang tadi beli), dia setia banget,” Ibu penjual nasi kuning membuka pembicaraan, dengan bahasa Jawa tentunya.

“Kenapa emangnya, bu?” juga dengan bahasa jawa, krama (lumayan inggil) tapi.

“Dia pacaran sama masnya (laki-laki yang tadi berdiri di luar), sudah dari mereka kuliah sampai kerja, bahkan sekarang saat masnya itu tadi kena musibah, matanya mengalami kebutaan, mbaknya itu tetep nemenin, ga ninggalin,” jelas Ibu itu, masih dengan bahasa Jawa ngoko.

Saya terdiam.

“Makanya, masnya kalau cari pasangan kaya gitu, yang setia,” tutup ibu itu dengan sebuah nasihat, dan ditujukan kepada saya. Membuat saya jadi kepikiran soal masa depan, pagi-pagi begitu.

“Amin,” timpal saya singkat, “Semoga, Bu.” Saya lalu berpamitan, dan meluncur dengan sepeda saya ke arah Jakal, juga dengan terburu-buru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s