Estetika Tubruk

Saya seorang pecinta kopi, memang bukan sekaliber orang-orang yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi beberapa teguknya. Dengan status saya sebagai mahasiswa, plus anak kost, plus marhaen yang acapkali dikaitkan dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, menghargai tiap tetes dari kopi yang saya minum adalah cara terelok saya dalam mencitai kopi.

Di antara berbagai cara meracik kopi yang ada di dunia ini, cara membuat kopi tubruk adalah yang paling sederhana, dan juga paling sesuai dengan saya dan latar belakang saya. Mengutip dari cerpen “Filosofi Kopi” karya Dee Lestari, kopi tubruk digambarkan sebagai berikut,

“Lugu, sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam. Kopi tubruk tidak peduli penampilan, kasar, membuatnya pun sangat cepat. Seolah-olah tidak membutuhkan skill khusus. Tapi tunggu sampai Anda mencium aromanya.” – Ben

Baiklah, bicara mengenai cara membuat kopi tubruk, yang seakan-akan tidak memerlukan “skill khusus”itu, sebenarnya sebuah salah  besar. Setelah mengarungi lautan informasi di jagad internet di mana benar dan salah kadang hanya dibedakan sebuah argumentasi tipis tak berlandasan, dan mencoba berbagai tip dan trik yang ada, akhirnya saya menemukan yang sesuai, paling tidak, dengan kebutuhan saya.

Pertama-tama, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Air. Air yang digunakan untuk menyeduh kopi sebaiknya malah tidak dalam kondisi mendidih. Suhu yang ideal adalah 90 derajat celcius. Jika kita tidak memiliki termometer, dan memang biasanya tidak, bisa dengan cara panaskan ait sampai mendidih dan didiamkan selama 1,5-2 menit.

Kopi. Kondisi kopi yang kita seduh juga sebaiknya dalam keadaan masih segar. Jika mau sedikit repot, bisa menyangrai dan menggiling biji kopi kita sendiri untuk mendapat hasil yang elok. Namun, mengingat saya sendiri adalah anak kost, kopi bubuk yang dibeli di warung-warung atau minimarket sudah lebih dari cukup. :”)

Rasio. Perbandingan antara bubuk kopi dan air untuk menyeduh adalah 1:15. Jadi, 20 gram bubuk kopi diseduh dengan 300 ml air untuk mendapat hasil yang maksimal.

Waktu. Durasi penyeduhan juga menjadi faktor penting. Terlalu sebentar di seduh, cita rasa kopi belum keluar sepenuhnya, jika terlalu lama diseduh, kopi menjadi over-brewed (saya tidak tahu bahasa Indonesianya, over-seduh?). Kurang lebih durasi yang tepat untuk menyeduh adalah 4 menit. Tak punya stopwatch? Males lihat jam terus menerus? Bisa juga dengan menghitung di dalam hati atau ditinggal mendengarkan satu buah lagu karena satu lagu biasanya 4 menit-an.

Sebelum diseduh, bubuk kopi sebaiknya dibasahi dulu (pre-heat) dengan air panas, lalu didiamkan selama 30 detik. Ini dilakukan untuk mempersiapkan bubuk kopi dan mengeluarkan gas-gas yang ada di sela-selanya.

Kebersihan. Kebersihan adalah bagian dari iman. Jadi, memastikan bahwa alat dan bahan yang kita gunakan selama proses menyeduh ini dalam keadaan bersih. Jadi, tidak hanya enak, kopi kita tidak hanya enak, tapi juga higienis. Usahakan agar penyeduh juga tak lupa untuk mandi.

Setelah semua faktor-faktor tersebut dicatat baik-baik, saatnya berproses pada cara pembuatan. Secara singkat, ditulis sebagai berikut:

  1. Masak air hingga mendidih, tunggu 1,5-2 menit.
  2. Siapkan kopi untuk diseduh. 13-14 gram (kurang lebih dua sendok teh) kopi untuk 200 ml (secangkir kecil) air.
  3. Basahi kopi dengan air panas. Diamkan selama 30 detik.
  4. Masukkan seluruh dosis air. Biarkan selama 4 menit.
  5. Kopi pun siap dinikmati. *Baiknya kita tidak foto-foto dengan kopi kita, nanti kopinya over-brewed dan keburu dingin .

Sebenarnya masih banyak cara, rasio, ataupun hitungan-hitungan lain untuk membuat kopi tubruk. Namun itu akan kembali lagi pada selera masing-masing.

Dan menurut saya, tak ada yang lebih elok daripada kopi yang diseduh dengan sepeuh cinta, oleh orang yang mencintai kita dan kita cintai 🙂 *aih.

Salam.

***

Sumber: http://kopikopikopi.com/4menit-cara-membuat-kopi-tubruk-enak/

Iklan

2 pemikiran pada “Estetika Tubruk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s