Ini Dunia, Nak. Bukan Utopia

Saya, Bagus Guntur Farisa, lahir dari golongan rakyat kecil. Tumbuh dan berkembang sebagai wong cilik. Masa-masa SD saya lewati bersama dana BOS yang cukup meringankan beban orangtua. Bahkan sejak SMP sampai menembus bangku kuliah detik ini pun saya harus disokong dengan beasiswa agar terus bisa berjalan di “shiratal mustaqim” monetisasi investasi dunia pendidikan.

Tahun berlalu. Saya tetaplah wong cilik yang sama. Saya tahu rasanya mata yang sulit terpejam saat tahu bahwa besoknya bakal tak ada sesuap pun nasi tersaji di meja makan. Saya pun mengetahui rasanya ketidakberdayaan saat melihat kakek-kakek yang seharusnya sudah menikmati masa tua bersama cucunya terpaksa menarik gerobak berjualan sayur keliling dari kampung ke kampung.
Orang-orang di “apatis di atas sana” bilang itu hanyalah “SENSI.” Saya bilang itu “EMPATI.”

Saya jadi bertanya-tanya, apakah seseorang yang tak pernah merasakan “nelangsa” layak untuk menjadi seorang pemimpin? Mungkin saja. Nabi Sulaiman AS kaya sejak lahir dan juga pemimpin yang baik.

Masalahnya beliau adalah seorang NABI. Lha, kita?

Persetan dengan itu semua.

Ada satu dari banyak hal yang bisa kita lakukan, tidak memandang pangkat kita, ras, atau jumlah harta kita.

Belajar hidup.

Itu yang Ibu saya selalu pesankan.

Ibu saya memiliki kurikulum yang mungkin belum terpikirkan oleh kemdikbud, tempat bimbel, kemenristek, ataupun badan-badan yang hobi menilai manusia secara kuantitatif.

Kurikulumnya sederhana. Ibu saya selalu menyempatkan, bersama saya atau adik saya, untuk pergi ke tempat transportasi umum semacam terminal, stasiun, pelabuhan, dll. Memperhatikan keadaan sekitar, dinamika masyarakat yang ada. Melihat muka-muka calo tiket yang tak ramah, ekspresi para pelancong yang kebingungan, atau mungkin orang-orang yang berdiri di sudut stasiun dengan tatapan mencurigakan. Mencuri dengar percakapan mereka, diksi yang digunakan, topik pembicaraannya.

Alasan melakukan semua itu?

Sederhana.

Ibu saya ingin agar anak-anaknya tidak hanya tahu lembutnya guru di ruang kelas, nyamannya suasana rumah, atau indahnya diksi di pengajian. Ibu saya ingin menunjukkan realita sosial di masyarakat. Ibu saya tak ingin anak-anaknya seperti katak yang sudah terlalu nyaman berada di tempurung. Pun ingin menunjukkan bahwa di tiap-tiap detil kehidupan pasti ada keindahan, di kerasnya perangai seseorang pasti masih ada kebaikannya. Mengingatkan pada anak-anaknya bahwa idealisme yang kuat harus diselaraskan dengan realita yang ada, bahwa dunia ini bukanlah Utopia yang bisa diutak-atik secara semena-mena seperti membuat kebijakan keren, modern nan aduhai, tapi tak memperhatikan realita sosial yang ada.

Intinya,

Ibu saya ingin anak-anaknya menjadi “manusia.” Tak sempurna, penuh cacat, tapi dari situlah banyak hal akan dipelajari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s