Hasil Gowes Malam Ini

Penat seharusnya bukanlah hal yang saya dapati. Saya masuk ke jurusan yang saya inginkan serta kuliah di kampus kerakyatan dengan bantuan tangan-tangan dermawan. Alhamdulillah, kurangkah saya beruntung?

Anehnya, kenapa saya malah dalam kondisi tak enak hati? Sebagai salah satu “pemakan uang rakyat,” harusnya saya bisa lebih bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Saya tak tahu. Apakah materi yang saya dapat di dalam kelas “sedang” tidak akur dengan visi saya? Entahlah. Mungkin masih ada variabel-variabel lain yang harus dikalkulasi.

Dousurebaii?

Besok jadwalnya ada shoutesuto (ujian kecil) mata kuliah kanji. Berhubung saya penganut aksioma anak-anak olimpiade, “Jangan belajar sehari sebelum ujian,” yang katanya sanad kutipan ini berujung pada Prof. Yohannes Surya (salah satu idola saya ini), saya pun mengurungkan diri untuk mengobok-obok tulisan penuh kode yang diimpor dari buyutnya negara Tiongkok tersebut.

Sebagai gantinya, saya memilih untuk mencari makan di desa sebelah (baca: Pogung Baru).

Cuss… Saya gowes sepeda saya dengan gontai…

***

Urusan perut pun beres dengan bersahaja. Sekalian mencari keragaman suasana, saya berangkat untuk gowes lagi tanpa tujuan kecuali untuk gowes itu sendiri. Ngegowes sambil merenung (merenung di kakus sudah terlalu pasaran), melihat keadaan sekitar, menikmati angin malam yang menyapu muka saya yang kusut, dan hal-hal kurang bermutu lainnya.

Apa mau dikata, saya terlalu banyak meracuni diri dengan kisah-kisah Sherlock Holmes sehingga terlalu sering memperhatikan hal-hal kecil yang seringkali dianggap sepele, seperti posisi duduk penjual kacang rebus di jalan Teknika depan gedung pascasarjana UGM, ekspresi bingung dan mencari-macari dari seorang petugas keamanan yang berdiri di tengah Jakal (Jalan Kaliurang), hingga pada seorang pengendara yang tiba-tiba menghentikan motornya di depan seorang bapak tua penjual hasta karya dari anyaman rotan.

Pengendara tersebut (dari sini kita panggil saja Agan) tanpa melepas helmnya menjabat tangan bapak tua penjual anyaman rotan itu. Bapak tua penjual itu menampakkan mimik muka bahagia dan terharu dengan sesungging senyuman.

Saya melihat secara sekilas, mungkin hanya beberapa detik. Namun bisa saya deduksi (sok Nyerlock) bahwa  Agan itu menempelkan sesuatu di tangannya saat bersalaman, sesuatu itu adalah hal yang berharga yang dibutuhkan banyak orang, dan hal yang berharga itu menjadi saksi bahwa masih ada kebaikan di dunia.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Saya seranhkan pada imajinasi masing-masing.

***

Masuk ke tahap konklusi.

Setelah melihat aksi si Agan itu, apakah saya menjadi terinspirasi dan tergerak hatinya?

Tentu saja. IYA.

Lalu, apakah saya jadi semangat untuk menyambut shoutesuto dengan belajar kanji sampai larut malam?

Sayang sekali, TIDAK.

Itu beda cerita. Saya masih berpegang teguh dengan aksioma yang dikutip di awal postingan ini.

Tapi bukan berarti saya tak mengambil hikmah dari apa yang saya lihat, lho. Hanya saja rasa penat ini masih tersisa. Semoga hal-hal sepele yang tak terduga bisa menjadi solusinya.

Paling tidak saat ini saya tersadar bahwa Jogja ini masih indah begini adanya.

*Eh, itu gedung-gedung tinggi yang lagi dibangun merusak suasana. 😐

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s