Lagu Yee Tu Hantu, Amal yang Tak Putus, dan Ilmu Kalam

Saat pertama kali mendengar kabar tentang lagu ini, saya tidak terlalu tertarik. “Ah, paling cuman lagu ngawur hasil kreativitas a la rakyat Indonesia,” begitu pikir saya. Namun, dengan budaya oversharing netizen Indonesia, video itu terus menerus tersaji di lini masa saya. Alhasil saya pun mencoba mengintip konten dari lagu dan video klipnya.

vlcsnap-2016-07-23-10h35m28s810
Akhirnya nonton juga :3

Video klip lagu ini cenderung biasa-biasa saja. Efek green screen kualitas tahun 90an, make up yang tebal berwarna putih dengan kostum nyentrik berupa gulungan kain yang putih juga, serta koreografingat  yang mudah dihafal bersatu padu menjadi sebuah mahakarya yang menyiksa mata.

 

Yang menarik justru musik dan lirik dari lagu tersebut. Ada beberapa poin yang bisa saya catat dan mungkin satu-dua hikmah  yang saya buat-buat setelah mendengarkan lagu ini.

Musik

Musiknya yang bercita rasa khasidah membuat pendengarnya pasti akan berekspektasi kalau lagu ini bertema religi. Dengan jenis musik ini, lagu “Yee Tu Hantu” memberikan warna berbeda pada belantika musik Indonesia, terutama di sektor religi di mana yang berkecimpung hanya orang itu-itu saja, atau artis-artis yang banting setir dadakan selama Ramadhan demi mencari surplus tambahan.

Lirik

Lirik lagu ini menjadi perhatian utama saya karena cukup memberikan “plot twist” bagi para pendengarnya. Ini salah satu kutipan liriknya.

Bapaknya meninggal
Ibuknya meninggal

Ini sudah jelas memberikan unsur sedih pada lagu tersebut. Tapi, lirik lanjutannya, yaitu

Anaknya baca koran

Membuat saya bertanya-tanya, apa maksud dari lagu ini.

Akan tetapi, penulis lirik dari lagu ini pasti sudah bisa menebak reaksi dari para pendengar, dan menambahkan lirik.

Gak mau ke Al-Qur’an

Saya langsung, “O…. ternyata begitu…,” sambil membentuk mulut saya seperti huruf ke 15 dalam alfabet. Ternyata penulis lirik lagu ini tak buruk-buruk amat, dia berhasil menyelipkan pesan moral dalam lagu yang absurd ini (atau saya yang berhasil mengarang hikmahnya).

Secara implisit, penulis lirik ingin agar anak-anak agar rajin beribadah demi kebaikan orangtuanya. Ini sejalan dengan Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim.

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Sumber: https://rumaysho.com/1663-terputusnya-amalan-kecuali-tiga-perkara.html

Do’a dari anak yang sholeh menjadi amal yang tak terputus bagi orangtuanya meskipun sudah meninggal kelak. Sungguh pesan yang luar biasa. Dibawakan dengan bahasa yang populis, mudah dicerna oleh orang awam.

Sayangnya, meski ada pesan moral di dalamnya, masih ada yang timpang dengan lirik lagu tersebut. Salahsatunya adalah lirik ini

Bapaknya meninggal jadi hantu
Ibuknya meninggal jadi hantu

dan ini juga

Kalau meninggal jadi syetan

Menurut Hasan Al-Banna, ilmu kalam yang membahas soal akhirat, alam barzah, dsj. disebut dengan Sam’iyat, yakni kajian tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i (dalil naqli atau berupa Al-qur’an dan sunah) seperti alam barzakh, akhirat, adzab kubur, surga dan neraka dls.

Sumber: http://www.seputarpengetahuan.com/2015/11/pengertian-ilmu-kalam-menurut-para-ahli-ruang-lingkupnya.html

Dari ilmu kalam yang saya pelajari selama ini, manusia, orang, alias insan tidak akan pernah bisa menjadi hantu. Apalagi sampai minta sate 200 tusuk dan dimakan di tempat. Itu hanya ada di manga Bleach di mana orang-orang bisa jadi Hollow, dan malaikat pencabut nyawanya(Shinigami) ga serem.

Banyak pendapat dari para ulama mengenai hantu. Satu hal yang pasti, pernyataan dari lagu “Yee Tu Hantu” tidak lah tepat.

***

Secara garis besar, viralnya lagu “Yee Tu Hantu” membuka mata saya. Ini menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia belum merata sehingga seseorang yang seharunya mendapatkan perawatan malah menjadi pencipta lagu dan menghasilkan sebuah mahakarya yang mengguncang Nusantara.

Serta mempertanyakan kualitas akademisi dalam pendidikan Indonesia karena salah satu mahasiswanya cukup kurang kerjaan untuk membahas lagu absurd yang sudah pasti tak mempercepat proses menuju wisuda. :”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s