23:00

Malam masih terbilang dini namun suasana jalan sebuah perempatan di kota Gudeg ini sudah lumayan sepi. Mungkin karena ini bukan malam minggu, atau mungkin juga karena sekarang mega mendung gelap tengah memuntahi jalanan di bawahnya dengan liur keberkahan.

Agak berbeda situasinya dengan yang ada di trotoar. Saya tengah duduk di sebuah angkringan di mana penjualnya sedari tadi menyodorkan puyer merk Bint*ng Tuj*h pada para pelanggan di situ.

“Buat obat pusing. Biar masalah-masalahnya hilang,” godanya. Namun saya enggan, saya lebih suka membaca kolom opini di koran sebagai penghilang stres.

“Ngga usah, Pak. Nanti IPK saya meroket kalau minum itu,” jawab saya ringan. Bapak penjual itu menawarkan pada yang lain, pun mendapat jawaban senada, tapi dengan dalih yang berbeda-beda.

“Mending dikasih duit aja, Pak.”

“Diingetin makan sama pacar aja udah cukup aku, Pak.”

“…”

Di tengah pasar puyer dengan supply menjadi-jadi, namun dengan demand yang tak kunjung muncul, hadir seorang ibu-ibu (atau lebih tepatnya mbah-mbah) membawa kantong kresek besar.

“Aku baru dapat bungkusan, nih. Dari anak-anak muda yang pake mobil,” ucapnya dengan logat yang tidak medhok sama sekali. Gerak-geriknya yang lincah sangat kontradiktif dengan tubuhnya yang kian merunduk. Tampaknya Si Mbah biasa main di situ karena orang-orang di angkringan tidak asing dengannya.

“Dapat apa, Mbah, Sampeyan? Mbok bagi-bagi sini,” celetuk salah seorang pengangkring.

“Ini ambil aja semuanya. Ada sabun, deterjen, air minum, biskuit. Aku cuma doyan rokoknya,” jawab Si Mbah ringan, menyodorkan plastik besar berisi berbagai macam barang dengan tangan kanannya. Di tangan kirinya tergenggam beberapa batang rokok yang dibungkus seadanya dengan plastik bening.

Lalu, berlanjutlah lagi lini masa pada malam itu. Dengan Si Mbah, yang pada akhirnya saya ketahui adalah seorang perantau dari tanah Sunda yang bekerja sebagai pemulung, menikmati batangan rokoknya. Dengan para pengangkring yang menikmati biskuit pemberian Si Mbah. Dengan anak-anak muda, memakai mobil, tengah asyik membagikan bungkusan entah di bagian mananya Jogja. Dan dengan pedagang angkringan yang masih gencar menawarkan puyernya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s