Selo Banget: Sebhuwah Otokritik

Guntur tu suka edit-edit foto, po? Kok, kek ga ada kerjaan?

Sebuah kutipan dari chat seseorang yang tersampaikan kepada saya. Membacanya isinya, saya tak merasa sakit hati. Alasan pertama, karena saya memang suka edit-edit foto. Alasan kedua, karena saya memang sedang tidak ada kerjaan kala itu. Yang (mungkin) terasa menyakitkan adalah mengetahui bahwa sanad dari chat tersebut berasal dari seseorang yang tidak biasa-biasa saja di mata dan hati saya. :”3

Selain persetujuan akan pernyataan berupa chat itu, juga muncul pertanyaan-pertanyaan di kepala saya. Salah satu yang utama ialah apa yang membuat pengujar menanyakan kekurangkerjaan saya. Pertanyaan sederhana itu ternyata memiliki jawaban yang tidak simpel.

Ada banyak kemungkinan yang bisa menjadi musabab. Mungkin saja si penanya, yang juga mahasiswa, selalu sibuk dengan berbagai macam pekerjaan. Mungkin juga si penanya merasa bahwa mahasiswa haruslah sibuk dengan berbagai macam pekerjaan. Dan mungkin sekali si penanya heran dengan saya, yang juga mahasiswa, tidak sesibuk mahasiswa pada umumnya sehingga sempat untuk edit-edit foto.

Menanggapi hal ini, biarlah saya menanggapi dan mengkritik diri saya sendiri. Pertama-tama adalah dengan menjelaskan latar belakang saya. Saya tengah menimba ilmu program studi bidang bahasa dan sastra. Lebih spesifik lagi, prodi sastra Jepang. Berbeda dengan prodi saintek yang penuh dengan laporan praktikum atau soshum lain yang penuh dengan tugas paper. Prodi saya cenderung selo alias santai karena kurikulumnya memang seperti itu. Secara garis besar isinya adalah belajar untuk membaca, mendengar, menulis, dan berbicara dalam bahasa Jepang, serta mempelajari sejarah, budaya, sastra, dan linguistiknya. Dan skillset yang didapat selama menjalani perkuliahan dirasa kurang cukup sebagai modal mengarungi kerasnya ombak bursa kerja. Paling tidak, itu jika dilihat dari kacamata saya.

Oleh karena itu, ada kecenderungan bagi mahasiswa Sastra Jepang untuk memanfaatkan keseloan mereka untuk mengembangkan kemampuan yang tak bisa diasah oleh kurikulum yang ada. Ada beberapa yang fokus untuk mengembangkan skill di dapur; ada yang mengabdikan dirinya sebagai seorang event organizer, penulis, dancer, vlogger, desainer, wirausahawan, atlet, jurnalis; ada pula yang memilih untuk mendedikasikan waktunya sebagai seorang gamer. Dan masih banyak yang lainnya.

Kembali pada saya. Saya tak memiliki hobi yang bisa mendatangkan uang. Sebagian besar dari hobi saya membutuhkan banyak uang. Dan skillset yang saya miliki benar-benar tidak ada apa-apanya dibanding teman-teman saya yang berdedikasi itu. Alih-alih untuk siap mengarungi dunia kerja, bahkan untuk menjalani dunia perkuliahan, kepanitiaan dan organisasi saja saya, bisa dibilang, nirpengalaman.

Jadlah saya, dengan stok waktu yang senggang, untuk beberapa saat ini memilih untuk melakukan edit-edit foto. Itu pun sebagai sarana untuk bersenang-senang balaka. Belum ada niatan untuk menjadikannya sebagai modal untuk mengarungi dunia kerja ataupun sebagai alat untuk mencari nafkah. Intinya, saya juga  masih nomaden, berkelana tak tentu arah, dan masih bingung ingin medayung perahu kano saya ke lautan realita bagian mana, apalagi masih banyak dari bagiannya yang berlubang dan perlu ditambal.

Ini menjadi bahan koreksi bagi saya.Sebelum terlambat, tenggelam dalam ketidaksiapan atau mati kehabisan air tawar kesempatan, saya harus sesgera menentukan arah, dan memukan daratan yang paling sesuai untuk berlabuh dan menetap di sana.

Sampai saat itu tiba, biarlah saya menyibak lautan ini secara perlahan sambil edit-edit foto. Karena saya memang sedang kurang kerjaan. Terima kasih sudah diingatkan.

***

Sek,

Eh,

Lalu, kenapa saya memilih berkuliah di prodi sastra Jepang? Kenapa tidak berkuliah yang sesuai dengan skillset yang dasarannya, setidaknya, pernah saya dapatkan sebelumnya?

Semoga tulisan saya yang satu ini bisa menjawabnya.

https://bagusfarisa.wordpress.com/2015/07/14/sastra-jepang-banting-setir-gradual/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s