Sinau Sakmodare

Beberapa waktu yang lalu, saat sedang di rumah untuk pemulihan kondisi tubuh yang sempat “tepar”,  saya kedatangan tamu. Ini hal yang jarang terjadi, yang pertama karena saya jarang di rumah, dan yang kedua tamu ini adalah keponakan saya yang bisa dibilang meskipun saya sedang di rumah, belum tentu sempat bertemu.

Kedatangan keponakan saya ternyata untuk menanyakan PR matematika yang tidak dia mengerti. Dalam hati saya berpikir, “Untung ponakan saya masih SD kelas 4, masih bisa saya handle, nih,” sedikit  meremehkan memang.

Ternyata saya salah telak, materinya belum pernah saya dapatkan selama saya menanjaki jenjang pendidikan, bahkan sampai kuliah ini. Materinya tentang cara menghitung akar kuadrat, tapi dengan cara-cara hitung cepat a la “bimbel-yang-penting-lulus” dan tidak konvensional. Saya curiga materi itu tidak resmi ada di buku materi karena saat saya tanyai, keponakan saya bilang tidak ada di buku pelajaran, cuma dari pejelasan gurunya.

Saya yang tidak mau kehilangan muka, tentu masih menyanggupi dengan senyum tersungging dan gestur garuk-garuk kepala. Tapi, dalam hati…

COMBROTTE, OPO IKI!?

Saya memakai salah satu pemberian Tuhan pada manusia, akal, dengan lumayan keras. Cocoklogi menjadi ilmu yang cocok untuk menyelesaikan problema ini. Saya memperhatikan contoh-contoh dari guru yang dicatat keponakan saya. Tidak ada penjelasan dengan kalimat di  situ, hanya ada angka-angka yang tidak tahu didapat dari mana.

Mulailah saya mencorat-coret halaman kosong, mencari cocoklogi terbaik. Merasa seperti Sherlock Holmes. Saya pun berhasil memecahkannya. Saya masukkan angka-angka yang akan dihitung. Berhasil. Bertambah bangganya diri saya. Saya masukkan angka lain. Berhasil juga. Makin melambung sudah hati ini. Saya masukkan angka ketiga. AMBYAR. Sunggingan di senyum saya berbalik 180 derajat.

Ponakan saya hanya bingung melihat saya yang bingung.

“Tidak apa-apa,” pikir saya. Ada nama baik almamater yang harus saya selamatkan. Mulai lagi dari awal. Berbekal tumpukan pengalaman dan rasa malu saya mencorat-coret lagi lembaran kertas.

Setelah lumayan yakin dengan hasil karya saya, sekali lagi saya masukkan angka-angka. Pertama, behasil. Masih biasa saja. Kedua, berhasil juga, tapi masih terlalu awal untuk melakukan selebrasi. Ketiga, puji Tuhan, berhasil juga. Kepercayaan diri saya pun pulih. Saya masukkan angka-angka yang lain, alhamdulillah, cocoklogi saya jalan.

Level satu dari problema ini sudah bisa terpecahkan. Sekarang masuk ke level selanjutnya, yang jauh lebih susah; menjelaskan pada ponakan saya cocoklogi saya yang porak-poranda.

Penjelasan dengan kalimat sederhana saya lontarkan. Lidah saya yang terlalu sering sok-sokan memakai kalimat sok intelek terpaksaya saya belenggu baik-baik. Pola pikir saya yang non-linear juga terpaksa saya runutkan.

Alhasil, terucap kata “mudeng” dari ponakan saya. Wow, saya kagum dengan kecerdasan anak-anak generasi sekarang ini. Seingat saya, pada jenjang pendidikan yang sama, saya masih harus berjibaku dengan jari untuk mengitung sesuatu. Akan tetapi, menurut saya seorang pengajar juga kurang tepat jika mengajarkan cara berpikir dan penyelesaian a la bimbel-yang-penting-lulus pada siswa, terlebih lagi pada anak-anak. Kan, kasihan orangtua atau paman seperti saya yang tidak tahu apa-apa tapi harus memberikan kejelasan pada sesuatu yang jelas-jelas belum pernah saya pelajari.

Namun, jika dilihat dari sisi yang lain, sepertinya memang sudah sepatutnya orang-orang generasi lama seperti saya ini untuk terus belajar demi mengikuti tuntutan zaman dan perubahan-perubahan sistem yang ada. Kalau tidak, bagaimana kita bisa menjadi pembimbing yang baik bagi generasi penerus kita. Dengan cocoklogi? Atau dengan rumus cepat a la bimbel-yang-penting-lulus?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s