Dua Titik Nol

Beberapa saat yang lalu, saya mengalami “tepar” yang cukup parah. Saya sampai harus dibawa ke rumah sakit dan dirawat oleh Rizqi (blog-nya di https://akbarhabibi.wordpress.com/ isinya bagus-bagus, lho) dan Mauli, teman-teman saya yang baik hatinya. *Maaf sudah merepotkan :”

Saat sakit, saya seperti tidak sadarkan diri, ngelantur tidak jelas. DItanya soal sesuatu, jawabnya soal yang lain. Kondisi saya ini menjebak kedua teman saya tersebut antara mau ketawa atau sedih melihat saya.

Saya yang biasanya makan dengan porsi besar, bahkan kesulitan untuk melahap sesuap nasi saat sakit. Intinya, sakit itu tidak menyenangkan dan merepotkan orang lain.

Berawal dari kesadaran saya untuk hidup sehat dan niat baik teman-teman saya,  maka dibuatlah perjanjian tertulis untuk mencegah saya melakukan hal-hal yang kemungkinan besar akan menyebabkan saya sakit lagi. Isinya sebagian besar mengenai hal-hal yang saya konsumsi dan akan dikenai denda jika kedapatan melanggar.

Poin yang paling ekstrem adalah saya tidak boleh mengonsumsi segala jenis produk kopi (ya, saya harus berpisah dengannya) dan makanan pedas. Karena latar belakang saya sebagai orang Tulungagung, Jawa Timur, di mana mengonsumsi kopi dan makanan pedas sudah menjadi budaya yang mengakar kuat di sana, saya harus berusaha menahan diri sebaik-baiknya.

Pada akhirnya…

Hitam pun sudah di atas putih.

Hari Rabu, 25 Januari 2017 di Fakultas Ilmu Budaya UGM, kami bertiga, saya, Rizqi, dan Mauli menandatangani pakta integritas yang akan mengubah hidup saya.

photo_2017-01-26_05-40-21
Terlihat wajah saya (paling kanan, bukan yang tengah) tampak ikhlas saat menandatangani  pakta integritas.
photo_2017-01-26_05-40-11
Saya (paling kiri) terlihat bahagia menunjukkan pakta yang sudah ditandangani dan sudah praktis berlaku.

Mengesampingkan ego dan dahaga akan sentuhan kopi dan makanan pedas, saya melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk mengubah diri. Meng-upgrade-nya ke versi yang lebih mutakhir, menjadi Guntur 2.0.

Untuk menguatkan keteguhan hati saya, ada hadis Rasulullah SAW soal menjaga perut dan yang masuk ke dalamnya.

“Tidaklah seorang manusia mengisi sebuah tempat yang lebih buruk daripada perut, cukuplah bagi seorang manusia beberapa suapan yang menegakkan punggungngya, dan jika hawa nafsunya mengalahkan manusia, maka 1/3 untuk makan dan 1/3 untuk minum dan 1/3 untuk bernafas.” 

(HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2265.)

 Saya pun memperbarui biodata saya di blog ini.

Yeah. It is what it is.

Iklan

Satu pemikiran pada “Dua Titik Nol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s