Angkringan Pelunak Hati

Ingin muntab. Akhir-akhir ini hal itulah yang saya rasakan. Jarang sekali saya merasa demikian semenjak lulus SMA.

Ada beberapa faktor yang menurut saya mungkin bisa jadi penyebabnya, dan diantaranya kebanyakan mengenai ISI: isi dompet, isi otak, dan yang paling parah, isi hati.

Kali ini pun isi hati yang menjadi pemicu masalah. Rasa mangkel, kesal, getun jadi satu setelah dimarinase selama beberapa semester dalam sebuah wadah pengap penuh bualan bernama ‘urip’. Rasa mangkel ini timbul setelah saya main ke kampus ‘tetangga’ yang mana sangat sesuai untuk disemati dengan pepatah berikut ini:

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Tapi dalam kesempatan kali ini, menurut saya, rumput kampus tetangga memang benar-benar lebih hijau. Dengan suasana yang lebih asri, bersahabat bagi pejalan kaki maupun pesepeda, dan memiliki krikulum yang lebih cocok bagi saya dalam pelaksanaan program studi sejenis dengan program studi yang saya jalani saat ini tentu saja berhasil membuat saya mangkel. getun, plus mlongo.

Harusnya aku masuk sana aja, ya. Daripada kuliah di kampus yang brand sama eksekusinya malah beda 180 derajat.

Pikir saya kala itu.

Keruwtan itu berlangsung selama beberapa hari dan menyebabkan perdebatan internal dalam diri saya. Dampaknya, saya jadi lebih impulsif, reaktif, dan tidak bertindak secara rasional  apalagi menjunjung akhlaqul karimah seperti biasanya. Memang hal tersebut tidak akan membuat saya menjadi seorang psikopat seperti yang ada di film SPLIT (ini bagus filmya), tetapi hal ini berhasil membuat saya layak disemati ungkapan “WHAT A DICK”, sekali lagi, itu menurut saya.

Pergolakan dalam hati saya masih terus terjadi. Saya dan diri saya yang satu lagi melaksanakan rapat darurat selama beberapa hari untuk menyelesaikan masalah ini. Pada akhirnya, “dia” mengusulkan kepada “saya” untuk menggali kembali apa yang menjadi alasan utama saya memilih untuk ngampus di tempat saya kuliah sekarang. (Untuk alasan kenapa saya memilih program studi yang saya jalani, bisa dilihat di sini, ya.)

Jawabannya ternyata cukup sederhana.

Karena Jogja dan angkringan.

Memang jogja yang sekarang sudah berbeda dengan Jogja yang digambarkan di film-film atau karya sastra lama. Pohon-pohonnya sudah ditindihi beton, jalan-jalan juga sudah disemarakkan dengan untaian kendaraan bermotor. Untungnya, meskipun begitu, masih ada yang masih bertahan, salah satunya, ya, angkringan.

Saya pertama kali bertemu dengan sistem tempat makan sejenis angkringan ketika dulu berada di Semarang. Orang Semarang menyebutnya kucingan, sedangkan orang Sragen meyebutnya hidangan istimewa kampung atau biasa disingkat menjadi HIK. Sedangkan di Jogja biasa disebut angkringan. Di Jawa Timur saya belum menemukan konsep warung yang seperti itu.

Sebenarnya angkringan tidaklah terlalu cocok bagi saya maupun orang Jawa Timur kebanyakan. Saya biasa makan dalam porsi besar, sedangkan di angkringan, “nasi kucing” yang ditawarkan tidak bakal mampu memenuhi kebutuhan saya kecuali jika makan dua puluh bungkus. Soal jenis hidangan pun, tidak ada yang terlalu “istimewa,” mendhoan, nasi, sate usus, sate telur puyuh, serta teman-temannya yang biasanya terhidang.

Akan tetapi, ada hal menarik yang membuat saya suka bersantap di angkringan. Salah satu dan faktor utamanya adalah kegiatan “ngangkring” itu sendiri. Duduk-duduk, bercengkerama dengan teman, atau bahkan hanya “menguping pembicaraan” pun bisa menjadi hiburan tersendiri. Topik pembicaraan yang serius, tugas kuliah misalnya, atau yang lebih serius lagi seperti “sistem reksa dana ayam petelur dan pedaging bagi warga kampung Pogung Lor” pun bisa didapatkan di angkringan.

Selain interaksi-interaksi sederhana yang terjadi saat ngangkring, teh panas yang dijerang di atas bara, dan mendhoan dan sate usus bakar penuh karsinogen menjadi pelengkap dari kegiatan ngangkring tersebut. Saat ngangkring pun tak perlu sungkan untuk minta air putih gelasan (biasanya malah ngambil sendiri, gratis, dan bisa refill). Posisi makan pun bisa bebas di sana, duduk, jongkok, atau lesehan, semuanya jaiz.

Setelah saya menggali kembali alasan saya memilih apa yang saya pilih, alhasil, saya langsung ngidam untuk “ngangkring” lagi. Saya punya spot favorit untuk itu, yaitu sebuah angkringan di Pogung Lor, ‘Angkringan Pak Kumis’ namanya. Sesuai namanya, yang jualan memang benar-benar berkumis, lebat pula.

Yang menjadi spesial dari angkringan itu adalah jumlah nasinya yang banyak (banget) dibanding angkringan lain. Nasinya diletakkan di atas piring, tidak dibungkus seperti angkringan biasa. Sambal yang disediakan pun terhitung ‘nendang’ untuk standar Jogja. Belum lagi teh yang mengepul panas karena dijerang terus di atas bara.

Sudah tiga bulan saya tidak ke sana karena pindah kos yang agak jauh. Dan saat ke sana, Pak Kumis langsung menyapa saya,

“Mas, kok, lama ga kelihatan. Pulang kampung, po?”

Mboten, Pak. Saya pindah kost.”

Pembicaraan tidak berlangsung panjang karena saya terlanjur kalap menikmati “hidangan istimewa kampung” yang tersaji di depan saya. Ajaibnya, semakin banyak mendhoan bakar yang meluncur ke perut saya, semakin reda pula rasa mangkel saya, semakin mengertilah saya bahwa urusan perut dekat sekali dengan urusan hati, dan semakin tersadar pula bahwa hidup tak lebih dari kegiatan sawang-sinawang.

***

Mungkin.

Mungkin saja, tanpa saya ketahui.

Anak-anak yang kuliah di kampus “tetangga” yang lebih hijau itu justru ingin ngampus di Jogja karena hal-hal sederhana seperti ini.

Namun.

Kalau pun tidak.

Kalau tidak pun.

Tidak apa-apa.

Pikir saya sambil melahap mendhoan bakar kesembilan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s