Nggelandang: Solo

Jarang-jarang saya bisa bangun pagi-pagi. Apalagi beberapa hari sebelumnya keseringan bangun kesiangan. Namun pagi ini berbeda. Mata saya sudah tidak kriyip-kriyip lagi pukul 2.30 pagi.

Pagi itu saya asyik bersiap diri, memaskukkan beberapa keperluan dan uang seadanya, dompet, dan hape yang ter-charge penuh. Hal ini saya lakukan dengan satu niat ingsun:

Nggelandang.

Perut saya yang belum terisi hari itu saya jejali dengan seduhan dua bungkus energen. Sambil menanti adzan subuh, saya menyeruput segelas energen tersebut.

Seusai sholat subuh, saya meniggalkan kost beserta laptop saya, padahal hampir tiap hari kami tidak pernah berpisah.

Tujuan saya selanjutnya adalah stasiun Lempuyangan. Dengan teknologi bernama Go-Jek, saya bisa sampai dengan selamat sentosa di depan pintu gerbang stasiun plus ngobrol-ngobrol asik bersama Bapak ridernya. Sebelum Bapak Go-Jek pergi, beliau nawarin buat top-up go-pay, katanya lagi ada promo bonus 100%.

“Lumayan, tuh,” pikir saya.

Yaudah, saya isi 50 ribu. Saldo saya kini jadi 100 ribu, hehe.

Sesampainya di Lempuyangan, saya  melihat banyak orang sudah berada di sana sepagi itu. Beberapa jatuh terlelap di bangku ruang tunggu.

Saya beli tiket kereta buat ke Solo. Karena jenis keretanya adalah komuter, jadi tidak bisa pesan sebelumnya, hanya bisa dibeli di loket paling awal 3 jam sebelum keberangkatan.  Belinya juga ga perlu bawa tanda pengenal.

Saya pun beli satu. Harganya bersahabat di kantong, cuma 8000 rupiah.

Cuss. Saya pun berangkat.

photo_2017-05-01_18-53-12.jpg
ini penampakannya

Selama perjalanan, saya lebih banyak tidur. Begitu juga dengan sebagian penumpang yang lainnya. Seperti yang tertulis di tiket, saya sampai di stasiun Solo Balapan pukul 06.40-an. Dari stasiun, saya langsung otewe ke Terminal Tirtonadi.

Wew. Jalan-jalan macam apa ini? Cuma wira-wiri ke tempat pemberhentian transportasi umum?

Kan ini bukan memang bukan jalan-jalan, tapi nggelandang, hehe. Emang seharusnya ga jelas gini.

Awalnya saya ingin naik sky bridge, jalan terusan langsung dari stasiun Solo Balapan ke Terminal Tirtonadi dan sebaliknya. Sayangnya, sky bridge-nya belum jadi, alhasil saya memilih untuk jalan kaki saja.

Namun, niat jalan kaki harus saya urungkan, karena di depan stasiun saya langsung didekati oleh mbah-mbah penggowes becak.

“Mas, pagi-pagi bagi-bagi rejeki. Jauh lho, Mas, terminal dari sini.”

Saya sebenarnya ga tahu pasti terminal jauh apa deket, lha wong ga buka Google Maps dan ga tahu jalan. Jadinya saya naik becak saja. Lumayan, udah lama juga ga naik becak.

Setelah nego-nego cincai, cuss ke terminal yang dulunya sebagai sarang calo, copet, dan preman paling ganas di pulau Jawa ini. Tirtonadi kini telah berubah. Infrastrukturnya sudah semakin mantap dan tidak ada lagi

Sesampainya di Terminal, saya menunggu bus ke Tawangmangu.

Busnya pun tiba, namanya Langsung Jaya. Tidak seperti bus patas yang biasa saya naiki untuk pulang ke rumah, kondisinya lebih mirip sama bus ekonomi AC, tapi ga ada AC-nya dan jarak antar bangkunya juga jauh lebih sempit. Mungkin biar bisa muat penumpang lebih banyak.

Cuss ke Tawangmangu.

photo_2017-05-01_18-53-14.jpg
Dangdut selalu menjadi hiburan utama

Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak melakukan aktivitas orang yang terlalu banyak terjaga di malam hari: Tidur.

Dengan terpaksa saya tidak mengindahkan asyiknya lantunan musik dangdut yang disetel Bapak Sopir.

Habis itu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s