Mengais Bacaan

Saya tengah berusaha mengurangi penggunaan gawai maupun akses internet secara berlebihan. Salah satunya dengan membumihanguskan aplikasi “instagram” dari gawai saya. Memang itu tidak serta merta membuat saya terdetoksifikasi dari pengaruh media sosial yang lain, tetapi paling tidak saya sudah mengurangi sumber penguras kuota internet saya. Penghematan pemakaian kuota internet yang mahal sama halnya dengan menghemat pengeluaran bulanan. Sebuah kabar baik untuk anak kost yang marhaen ini.

Hal lain yang saya lakukan untuk mengurangi tingkat akses internet adalah dengan tidak membawanya ke meja makan. Setiap kali pergi ke warung, burjo, angkringan, Sushi Tei, Ai Royal Unagi, lesehan, dsj., saya berusaha (kadang gagal, sih) untuk tidak mengeluarkan gawai dari kantong.

Lalu, apa yang saya lakukan sambil menunggu pesanan jadi?

Ngobrol dengan orang lain bisa saja jadi solusi utama. Akan tetapi karena saya hampir selalu makan sendiri, opsi tersebut bisa dicoret. Kecuali jika tukang masaknya mau diajak ngobrol.

Nonton TV yang ada di tempat makan bisa jadi solusi alternatif . Sayangnya, saluran televisi akan mengikuti selera dari pemilik tempat makan. Cukup beruntung jika pemilik warung suka menonton pertandingan bola, tetapi cukup apes jika mata saya harus tertambat pada acara TV pencuci otak semacam sinetron atau acara dangdut yang nyanyinya lima menit, komennya 1 jam.

Lalu, jika ga ada yang diajak ngobrol sama ga ada TV, gimana?

Saya memilih untuk mencari bacaan. Biasanya, saya makan di tempat yang menyediakan koran, baik yang terbit hari ini maupun yang sudah lama. Dari lembaran koran tersebut saya mendapatkan informasi-informasi baru, iklan obat kuat, opini tokoh masyarakat soal pembangunan bandara perintis di Tulungagung, atau sekadar melirik klasemen liga Inggris.

Membaca koran menurut saya memberikan sensasi yang lebih  beragam daripada membaca linimasa media sosial. Alasannya? Linimasa media sosial kita sebagian besar sudah memakai tracker yang cenderung menampilkan topik-topik tertentu sesuai minat kita. Oleh karena itu isinya berkutat pada hal yang itu-itu saja sampai kita mulai melakukan click dan view pada topik-topik yang berbeda.

Saat tidak bisa menemukan koran, saya mencari sumber bacaan yang lain; kalender, menu makanan yang awalnya cuma saya perhatikan harganya, tulisan iklan badut, sulap, sedot wc, telat bulan (yang saya baru tahu artinya akhir-akhir ini). Bahkan ada saat saya membaca tulisan di balik bungkus obat saking tidak ada hal lain yang bisa dibaca.

Menurut saya, tidak ada salahnya bagi para pemilik tempat makan untuk menyediakan bacaan bagi para pelanggannya. Syukur-syukur bisa meningkatkan angka minat baca di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s