Nama dan Kenapa

Di linimasa media sosial saya lagi rame beredar postingan dua orang jabang bayi yang dinamai oleh orangtuanya dengan nama yang “luar biasa.” Keduanya dinamai berdasarkan dua ninja legendaris dalam serial animasi Jepang (anime) Naruto.

Saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah para orang tua dari dedek-dedek ini adalah salah satu penganut alirannya William Shakespeare, yang mengatakan,

Apalah arti sebuah nama.

Hmmm…
Berbeda dengan pendapat beliau yang seorang sastrawan mahsyur dan juga tuan tanah yang kejam ini, saya menganggap nama sebagai sesuatu yang berharga. Nama panggilan saya, dari lahir sampai saat ini sudah gonta-ganti berkali-kali; Dagus, Bagus, Guntur, Bagas, Bagus (lagi), Gustur, Bagus (lagi), dan akhirnya kembali lagi ke Guntur. Dari setiap nama itu, terdapat kisah di baliknya.

Nama Gustur misalnya, saya dapatkan bukan karena saya anak Kiai,  melainkan karena faktor teknis. Saya mendapat panggilan terebut saat menduduki bangku SMP. SMP saya kebetulan satu paket sama SMA, jadi siswanya lumayan banyak. Selain itu, karena sekolah saya itu ada asramanya, hubungan antara siswa SMP dan SMA juga lumayan dekat, minimal tahu namanya satu sama lain. Tiap hari ketemu soalnya.

Dari sekian banyak siswa tersebut, terdapat banyak siswa yang bernama “Bagus”. Hal ini sering membuat banyak Bagus yang merasakan salah panggil. Oleh karena itu, terdapat peraturan tidak tertulis untuk memanggil para “Bagus” ini dengan panggilan yang berbeda satu sama lain.

Saya mendapatkan panggilan Gustur, berasala dari baGUS dan gunTUR. Ada juga yang mendapat sebutan Guspe,  dari baGUS Pramono. Lalu ada Gusbleng, Gusyu, Gusha dan Gus-Gus yang lainnya. Masalah salah panggil itu beres, dan nama panggilan tersebut menjadi kisah tersendiri.

***

Nama juga menjadi alat untuk memberikan kedekatan. Untuk contohnya saya ambil dari yang ada di dekat saya aja, ya.

Di suatu tempat, ada kucing tak bertuan yang kerjaannya hamil, ngelairin, hamil lagi. Awalnya tidak ada empati maupun simpati khusus terhadap kucing tersebut. Namun setelah orang-orang di sekitar sana sepakat untuk menamai dia, mulai timbul pengakuan. Kalau dalam bahasa daerah saya disebut “acknowledgement.”

Hal ini juga bisa terjadi pada kejadian-kejadian yang lain. Seorang anak kecil bisa menangis tersedu-sedu saat mengetahui bahwa “Si Pipit,” ayam warna-warni kesayangannya yang telah tumbuh besar kini harus terhidang sebagai ayam ungkep di hadapan matanya.

***

Nama juga menjadi do’a, menjadi harapan yang disematkan oleh orang tua kepada anaknya juga sekaligus menjadi tanggung jawab. Nama “Muhammad” misalnya. Jikalau banyak sekali muslim yang dinamai dengan “Muhammad,””Mukhammad,” “Mohammed,” “Muchammad,” dsj. itu sudah tentu wajar, karena orang tua ingin agar putranya kelak bisa menjadi seperti Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, yang menjadi suri tauladan bagi umat manusia.

Bagai pedang bermata dua, nama tersebut juga menjadi tanggung jawab bagi penyandangnya. Di Turki, orang yang memiliki nama “Muhammad” biasanya lebih memilih untuk dipanggil dengan nama keduanya. Misal, guru Al-Qur’an saya yang bernama “Muhammad Bahauddin Islamoglu” lebih memilih untuk dipanggil dengan nama Bahauddin. Alasan yang beliau sampaikan kepada saya, agar jika ada orang yang tidak suka kepada guru saya, dia kemungkinan besar akan menghina nama “Bahauddin,” yang menjadi panggilannya, dan bukan “Muhammad.” Beliau, dan sebagian besar warga Turki lainnya, tidak tega jika nama “Muhammad” menjadi cemoohan karena kesalahan dari pribadi mereka.

Kalau di daerah saya yang matoritas orang Jawa agak beda lagi. Anak kecil yang sering sakit-sakitan tanpa alasan yang jelas sering dibilang kabotan jeneng alias ‘keberatan nama,’ sehingga biasanya dicarikan nama baru yang dianggap lebih sesuai untuknya. (Hal ini juga yang menyebabkan saya yang bernama “Bagus” pernah dipanggil “Bagas” yang berarti ‘sehat’).

***

Oke, kembali lagi ke topik yang mengawali postingan ini.

Saya harap, para orang tua yang memberi nama anak-anak mereka dengan nama dua legenda shinobi Konoha tersebut tahu tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh para jabang bayi tersebut.

Semangat adek-adek calon penerus bangsa!!!

 

###

Postingan ini ditulis sambil menunggu Mauli selesai mengunggah file proposal ke Google Drive

Iklan

Satu pemikiran pada “Nama dan Kenapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s