Balada HiLo dan Stigma Tinggi Badan

Saya lagi suka minum HiLo. Yang kecil, sachetan 14g. Alasannya? Bukan karena pengen tambah tinggi, tapi karena itu produk susu yang sesuai dengan kriteria saya, yaitu enak, halal, dan murah. Saya sudah pernah mencoba produk-produk yang lain, namun memangnya ada yang lebih bagus dari HiLo? Yang lebih mahal sih banyak.

Oke, cukup segitu aja endorse-nya.

Kalau membicarakan soal susu yang kaya akan kalsium yang dikenal masyarakat sebagai minuman peninggi badan ini, saya jadi teringat teman saya waktu di sekolah berasrama. Demi keamanan privasi, sebut saja namanya Sugeng.

Begini ceritanya.

Masa-masa SMP-SMA adalah saat pertumbuhan tubuh manusia pada puncak-puncaknya. Terbukti saya dan teman-teman saya kebanyakan mengalami peningkatan tinggi badan yang cukup signifikan. Namun, sama halnya dengan jodoh, tinggi badan juga tidak bisa dipaksakan. Ada beberapa yang justru mengalami pertumbuhan secara horizontal daripada vertikal, alias badannya melebar. Sugeng ini salah satunya.

Sugeng agak kurang pede dengan ketidak-tinggiannya tersebut, dan dia ingin tinggi bagaimanapun caranya. Meskipun lahir dari keluarga dengan harta yang melimpah sehingga mampu untuk membeli selusin JACO Therapy Bed, dia memilih untuk menempuh jalan yang lebih sederhana, yaitu minum susu yang BANYAK.

Saat saya menuliskan kata “banyak” dengan huruf kapital semua, saya tidak main-main apalagi typo. Sugeng telah menyetok berkarton-karton susu HiLo di loker asramanya. Setiap kali minum Sugeng mencampurkan setengah kotak bubuk susu dengan satu liter air panas. Sama sekali  tidak mengikuti anjuran takaran yang ada di balik kotak.

Argumentasinya, semakin banyak dia mengkonsumsi susu HiLo, semakin banyak pula kalsium yang dia serap, dan semakin tinggilah dia nantinya. Sayangnya, sepertinya tinggi badan memang hampir sama dengan jodoh, sama-sama tidak bisa dipaksakan. (Tapi ga tau, ya, kalau sekarang, udah lama ga ketemu soalnya. Hehe.)

***

Orang-orang yang seperti Sugeng ini sebenarnya tidak sedikit jumlahnya. Hal ini disebabkan oleh persepsi masyarakat umum mengenai kriteria-kriteria tertentu, misalnya kulit yang bagus itu yang cerah dan putih, dan proporsi badan yang bagus itu yang tinggi semampai.

Sebenarnya hal tersebut tidak berlaku di seluruh muka bumi, di salah satu negara afrika misalnya, cowok lebih suka cewek yang gendut. Propaganda dari produk yang dengan sengaja menciptakan demand agar dagangannya laku juga ikut berpengaruh pada selera masyarakat. Ditambah lagi dengan masuknya dunia ke dalam era informasi, terjadi penyamaan persepsi akan berbagai macam hal yang awalnya amat beragam, semisal kecantikan, kegagahan, dsb.

Namun, persetan dengan utopia wanita bertubuh semampai dan pria berbadan gagah berperut roti sobek. Pendapat pribadi saya, wanita dengan badan mungil gitu malah unyu, lho,

Uyel-able soalnya.

Eh.

Iklan

Satu pemikiran pada “Balada HiLo dan Stigma Tinggi Badan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s