Cemburu: Sebuah Kajian Kurang Ilmiah

Ingin kubunuh pacarmu
Saat dia cium bibir merahmu
Di depan kedua mataku
Hatiku terbakar jadinya, Cantik
Aku cemburu

  • Dewa 19, (Cemburu, 2000)

Kenapa band yang dulu berisikan Ahmad Dhani yang masih kinyis-kinyis dan belum hobi bikin sumpah-sumpah nyeleneh pas pemilu ini menggambarkan rasa cemburu dengan sedemikian rupa?

Hmmm…
Mungkin begini…

Cemburu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb.’ Jika kita aplikasikan definisi ini kepada kutipan syair lagu Dewa 19 di atas, bisa didapatkan bahwa pelantun lagu merasa tindakan mencium bibir merah dari tokoh ‘kamu’ adalah sebuah tindakan yang beruntung dan pantas untuk ditidaksenangi. Akan tetapi, bagaimana jika bibir dari tokoh ‘kamu’ tidak merah dan aksi beruntung itu dilakukan tidak di depan mata pelantun langsung? Apakah itu akan tetap memantik rasa tidak senang sehingga dapat berbuntut pada tindakan penghilangan nyawa orang lain?

Susah menjawabnya? Inilah kenapa kita harus mencari lebih dari satu sumber rujukan.

Terdapat tujuh dosa besar yang tercantum dalam puisi naratif berjudul Divina Commedia karya Dante, yaitu Pride, Greed, Lust, Sloth, Wrath, Envy, dan Gluttony.  Kategorisasi ini diadaptasi pada manga yang yawla luar biasa yang ternyata kreatornya adalah seorang perempuan, Full Metal Alchemist, dalam bentuk makhluk-makhluk berkekuatan super yang disebut homunculus.

Para homunculus ini memiliki kepribadian dan kekuatan super uniknya masing-masing. Dari ketujuh homunculus ini, rasa cemburu sesuai dengan tokoh Envy yang penuh dengan rasa dengki, sirik, dan iri di hatinya. Envy memiliki kekuatan untuk berubah menjadi berbagai macam bentuk. Sama dengan kekuatan yang dimiliki Envy, rasa cemburu juga dapat hadir dalam berbagai macam rupa.

Kecemburuan sosial misalnya, adalah suatu kondisi di mana munculnya kelas sosial karena adanya perbedaan-perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat seperti dari segi hokum, ideologi, politik, ekonomi, sosial, romansa, dsb. Efek dari kecemburuan dalam bentuk ini cukup mengerikan, karena bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Lalu ada juga kecemburuan seksual. Ini adalah jenis kecemburuan yang paling sering bikin baper. Kecemburuan dalam rupa ini timbul karena adanya rasa takut seseorang bahwa orang lain akan merusak eksklusivitas hubungan romansanya. Jadi, dapat dipahami bahwa tindakan mencium adalah hal yang membuat eksklusivitas hubungan tokoh pelantun dengan tokoh ‘kamu’ menjadi terganggu.

Pemantik dari rasa cemburu ini biasanya adalah factor-faktor visual yang kasat mata alias bisa disaksikan dengan mata telanjang. Hal ini cukup menjelaskan kenapa tokoh pelantun dalam lagu cemburu menyinggung ‘bibir merahmu.’ Diketahui bahwa dalam spectrum kasat mata, warna merah memiliki panjang gelombang terpanjang di antara warna-warna lainnya, yaitu sebesar 620-750 nm. Itulah sebabnya alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) atau biasa disebut bangjo memakai warna merah untuk memberi tanda sebagai isyarat ‘berhenti.’ Karena paling mudah untuk dilihat, bahkan dari kejauhan sekalipun.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa pelantun ingin menekankan bahwa tindakan yang merusak eksklusifitas dari hubungannya tersebut bisa dengan mudah diamati karena ke-ngejreng-an bibir tokoh ‘kamu’ tersebut.

Nah…

Setelah penjelasan panjang lebar yang kurang bermanfaat seperti ini, tidak pantas jika tidak sekalian menawarkan solusi bagi para tokoh-tokoh yang ada di dalam lagu Cemburu tersebut.

Untuk tokoh ‘kamu,’ usahakan untuk memakai lipstick, gincu, atau lip balm dengan warna yang tidak mencolok, pokoknya jangan merah.

Untuk pacar dari ‘kamu,’ janganlah melakukan aksi yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Karena seperti yang sudah dijelaskan di atas, kecemburuan sosial dapat menimbulkan perpecahan bangsa. Tidak ingin kan bangsa yang sudah disatukan dengan susah payah oleh para pendahulu kita rusak karena kamu yang suka nyosor di depan publik.

Dan untuk tokoh pelantun yang terbakar hatinya,

Mbok ya kamu memalingkan muka, minimal merem, lah. Saya aja suka malu-malu kalau liat orang mesra-mesraan di depan kedua mata saya.

Sama satu lagi,

Move On!

GVLK!

Kalau ga bisa, ya, langsung temuin orang tua tokoh ‘kamu’ aja, siapa tahu nasibmu kaya anaknya Pak Amien Rais.

Ha mbuh.

***

Ditulis dalam keadaan mabuk pengantar linguistik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s