Tiki-Taka Pulang Kampung

Hubungan saya dengan mudik itu mirip dengan lagunya Naif yang berjudul Benci untuk Mencinta. Selama kurang lebih 10 tahun (hampir setengah dari usia saya) saya habiskan di perantauan. Oleh karena itu, tiap pulang kampung menjadi tradisi yang dengan penuh rasa cinta saya lakukan. Sayangnya, sarana transportasi pas jaman saya SMP dulu itu masih ga sebagus sekarang sehingga bikin saya agak benci untuk melakoninya.

Kereta api, misalnya, itu udah kaya Hunger Games. Semua kursi, lorong gerbong, bahkan sampai toilet dan sambungan gerbong terisi penuh dengan manusia. Tak ada yang mau mengalah (lebih tepatnya, tidak ada yang bisa mengalah). Isinya pun ga cuma penumpang.

Ada orang-orang yang jualan minuman sachetan sambil nenteng termos, ada tukang sapu nonofisial yang entah nyapu apa tapi minta duit, ada juga pengamen yang suaranya kalah dengan deru angin yang masuk lewat retakan kaca gerbong.

Saking penuhnya, yang meriksa karcis pun ga bisa lewat. Alhasil, tidak ada pemeriksaan karcis dan yang ga beli karcis pun bisa naik kereta gratis. Enak, kan? Mustaka panjenengan. ūüėź

Meskipun begitu, sebagai warga negara yang baik, tentu saja saya tetap membeli karcis meskipun saya berakhir dengan berdiri menggunakan satu kaki di sambungan gerbong selama 12 jam.

ManyPeople
Ilustrasi aja (sumber: RailPictures.Net)

Oleh karena itu, saya sempat mencoret kereta (ekonomi) sebagai sarana untuk pulang ke kampung halaman tercinta. Untungnya, sekarang perkeretaapian Indonesia udah mantep, GGWP buat Pak Jonan, lah, pokoknya.

Lalu ada juga sarana transportasi bus yang jadi pilihan. Dulu saya SMP di Semarang, dan tidak ada bus yang berangkat dari Semarang langsung menuju Tulungagung, begitu pula sebaliknya. Adanya adalah saya harus opar-oper alias gonta-ganti bus agar bisa sampai ke rumah tercinta. Belum lagi sekolah saya itu di derah kampung, harus gonta-ganti angkot juga.

Kalau dirangkai menjadi suatu narasi, jadinya tuh begini:

Dari SMP saya itu, saya keluat dari pintu gerbang. Di depan pintu gerbang, saya lalu awe-awe (melambaikan tangan) sampai ada angkot lewat. Lalu saya naik angkot sampai ke pertigaan Indomaret Gunung Pati, dari sana lalu saya turun dan pindah angkot yang menuju ke Pasar Karangjati (kalo ga salah), Ungaran.

Sebelum angkot ini berangkat, ada prosesi yang wajib dilakukan, yaitu, ngetem. Ngetemnya biasanya ga terlalu lama, paling ya 1 jam-an. Setelah itu, cuss, berangkat ke pasar Karangjati. Dari pasar, saya lalu mencari bus yang menuju arah Solo. Pada tahap ini, saya tidak bisa pilih-pilih bus seperti apa yang saya naiki karena biasanya udah padat banget. Mau bus AC atau bus yang udah bobrok, yang penting saya dapat bus dan ikut keangkut ke Solo. Busnya pun cuma berhenti buat naik/nurunin penumpang selama 5 detik-an. Jadi, harus bener-bener sigap.

Sampai Solo, saya cari bus arah Surabaya. Jaman saya SMP dulu Terminal Tirtonadi Solo amatlah “angker” dengan berbagai calo tiket dan preman yang menghantui. Jadi harus ekstra hati-hati. Naik bus arah Surabaya, saya lalu turun di Kertosono, Jawa Timur, tepatnya di daerah bernama Bra’an. Daerah ini adalah persimpangan dari bus berbagai jurusan di Jawa Timur.

Setelah turun di Bra’an (biasanya deket penjual Tahu Poo), saya nyari bus yang dari arah Surabaya ke arah Tulungagung. Yayy.

Setelah naik bus itu, kalau ga kemalaman, saya turun di daerah bernama Jepun lalu naik bus arah Blitar yang nantinya bakal turun di jalan raya dekat rumah saya.

Jalan dikit.

Sampai, deh.

Memang rutenya agak membingungkan. Tapi percayalah, memang iya :”(

Perjalanan mudik saya dengan bus ini kalau dalam dunia sepak bola ibarat tiki-taka, oper sana, oper sini. Sayangnya, di sini saya sebagai bolanya.

Namun, mengesampingkan semua tetek-bengek kesemrawutan transportasi Indonesia yang unik ini. Ada hal yang membuat saya, dan juga jutaan rakyat Indonesia lainnya, untuk rela beruyel-uyelan, bermacet ria, bahkan sampai ada jatuh korban.

Iya.

Rindu.

Iya.

Pulang.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tiki-Taka Pulang Kampung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s