Sego Edan yang Membuat Majnun

Pada awal bulan Juli lalu saya pergi ke Malang. Saya sudah lama tidak ke kota ini, terakhir kali ke sana pas SD saat pembinaan olimpiade. Saya justru lebih sering ke Batu, ke tempat wisatanya yang asek-asek tapi ga murah dan tak ramah sumber mata air itu.

14334477_305588923138918_7643624666715652096_n.jpg
Sego Edan (sumber: instagram @ngalamkuliner)

Saya pergi ke Malang untuk ujian kecakapan bahasa Jepang, JLPT. Saya ke sana ditemani Adek yang kebetulan juga sedang ada keperluan. Saya berada di Malang selama beberapa hari sehingga akan sangat disayangkan jika tidak mencicipi kuliner khas “anak kost” Malang. (Bakso sudah mainstream, jadi tidak usah dibahas).

Adik saya memberikan rekomendasi, namanya Sego Edan atau ‘Nasi Gila’ dalam bahasa Indonesia. Dari namanya saja sudah menarik, apalagi katanya harga dan porsinya bersahabat bagi kantong saya.

Kebetulan lapak Sego Edan berada di dekat kontrakan Adek saya, tepatnya di Jl. Bondowoso (pojokan lampu merah). Karena dekat, kami ke sana jalan kaki.

photo_2017-07-13_05-19-18.jpg
Lapak Sego Edan (dok. pribadi)

Lapak Sego Edan berbentuk gerobak dorong yang berada di emperan toko. Jika ingin makan di tempat, di sana ada tikar yang bisa digelar. Tempatnya cukup lapang, enak buat tiduran, namun saya kurang cocok dengan kendaraan bermotor yang berseliweran.

Saya dan Adek memesan 2 porsi makanan, satunya Sego Edan, versi originalnya, dan satunya lagi Nasi Ayam, versi banyak ayamnya dengan bumbu yang berbeda pula. Satu porsinya 10ribu rupiah. Kami tidak makan di tempat dan memilih untuk membungkus makanan tersebut untuk dimakan di kontrakan.

Saya pun sudah tidak sabar untuk mencoba makanan tersebut.

photo_2017-07-13_05-18-49
Sego Edan (dok. pribadi)
photo_2017-07-13_05-19-17.jpg
Nasi Ayam (dok. pribadi)

Jika Anda termasuk pemuja tampilan luar, dan hanya menilai anime dari tokoh wanitanya, saya takut anda akan langsung tidak cocok saat melihat Sego Edan secara sekilas. Tampilan Sego Edan sungguh membumi, tidak pakai garsnish-garnish-an.

Namun, saya jamin, rasanya benar-benar nendang. Sego Edan memiliki citarasa yang kuat dari bumbu yang digunakan. Ga bisa makan pedas? Tenang, Sego Edan nendang bukan dari cabai tapi dari rempah-rempah. Walaupun untuk kepedasannya bisa diatur sesuai selera.

Konsep Sego Edan sebenarnya sederhana , yaitu tumisan ayam, sayur, sosis dkk., yang dihidangkan bersama nasi putih. Yang menjadi pembeda, adalah bumbu tumisan itu lebih berkuah, dan itu yang mejalarkan cita rasanya ke bulir-bulir nasi. Ditambah lagi, nasi yang digunakan lebih mirip nasi goreng. Bulir-bulirnya terpisah satu sama lain dan tidak mblekenyek (saya tidak tahu bahasa Indonesianya). Secara sekilas, Sego Edan mirip dengan nasi yang dituangi kuah gongso, namun dengan bumbu yang lebih kuat.

Saya sendiri belum pernah menemukan makanan dengan cita rasa yang seperti itu, baik di Jogja, Semarang, Tulungagung, maupun Kayseri. Saya pun kalap, menggila, menghabiskan porsi saya dan sebagian porsi Adek.

Menurut saya, gabungan antara harga dan cita rasa yang semantap ini, akan makin sempurna jika bisa dinikmati juga di Jogja, terutama dekat area UGM, kalau bisa di Pogung Rejo. Hehe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s