Malioboro dan Pantomim yang Dibubarkan

Karena kemarin lusa gagal nonton Via Vallen, saya jadi lumayan kecewa. Keesokan harinya saya lebih banyak menghabiskan waktu di kost, bukan karena sedih dan meratapi nasib, tapi sibuk benerin rem sepeda.

Malamnya saya pun keluar kandang karena ada keperluan di printshop. Setelah itu, saya tiba-tiba pengen gowes ke Malioboro, sekalian menikmati malam Jogja yang akhir-akhir ini terasa lebih dingin karena rindu angin Muson. Di tempat saya, Tulungagung, hal ini biasa disebut dengan mbediding.

Sesampainya di Malioboro, saya memarkir sepeda di tempat yang disediakan. Tentu tidak lupa untuk digembok. Saya pun melanjutkan dengan jalan kaki sepanjang Malioboro untuk berhenti sebentar menikmati wedang ronde. Anginnya semribit soalnya.

photo_2017-07-17_02-00-39.jpg
ronde, pemberi kehangatan organik

Di tengah perjalanan mengarungi trotoar, saya mendapati kerumunan orang yang cukup ramai. Awalnya saya kira ada pertunjukan musik jalanan, tapi ternyata bukan. Di sana saya malah mendapati pertunjukan pantomim. Saya baru pertama kali melihat pertunjukan pantomim di situ, biasanya saya lihatnya di km 0 ditemani pemuda-pemudi ber-cosplay jadi pocong dkk.

Pantomim itu diperagakan oleh dua orang, tepatnya satu mas-mas dan satu lagi anak kecil. Penampilan mereka luar bagus dan menghibur, terbukti dari ramainya orang yang berkerumun. Anak kecil yang berpantomim juga tampil dengan mengagumkan, penguasaan gestur dan mimiknya bahkan lebih bermutu daripada pemeran sinetron Anak Langit. Percayalah. Anak kecil, yang jika dilihat dari ukuran tubuhnya, mungkin masih TK tingkat akhir atau sudah SD semester awal, berhasil mengundang tawa para penonton, termasuk saya.

photo_2017-07-17_02-00-33photo_2017-07-17_02-00-36

Akan tetapi, penampilan mereka harus usai lebih dini. Petugas yang berwajib membubarkan mereka dengan alasan belum memiliki izin tampil di daerah situ. Penonton yang kecewa ber”yahhh” berjamaah. Meskipun tontonan sudah usai, penonton masih berkerumun, menonton petugas keamanan yang tengah menjelaskan duduk permasalahan ke mas-mas pantomin. Selain itu, saya juga memperhatikan adanya ekspresi takut muncul dari muka si anak yang berpantomim.

Berhentinya pertunjukan itu bahkan menarik perhatian sepasang bule yang tampak kebingungan dengan apa yang terjadi. Lalu mereka melihat saya dan mendekat untuk bertanya, “Why did they stop performing?”

Saya jawab karena mereka tidak memiliki izin. Namun mas-mbak bule ini belum puas dan bertanya lagi, “Does it have anything to do about the little kid?”

Saya jawab tidak karena tadi pihak berwajib bilangnya cuma soal perijinan . Tapi, saya pun jadi kepikiran juga, jangan-jangan bisa kena child labouring, nih, melihat usia si anak kecil dan ditambah sudah selarut ini masih sibuk mencari nafkah. Jika dibandingkan, pada umur segitu saya sudah bobok manis, mlungker di sofa.

Tentu saya tidak bisa mutusi apakah itu child labouring atau bukan karena tidak tahu latar belakang dan alasan mereka. Tentu harus ditinjau dulu. Jangan seperti perpu ormas yang baru itu, yang bisa asal menindak. Heuheuheu.

Tapi ya tetap aja patut disayangkan. Anak sekecil dan seberbakat itu, (entah terpaksa atau tidak) menyalurkan kemampuannya di jalanan.

Coba kalau bisa mendapatkan fasilitas dan kesempatan yang lebih baik, ya, Dek.

Hmmmm.

Iklan

2 pemikiran pada “Malioboro dan Pantomim yang Dibubarkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s