Yang Pertama Yang Istimewa

2016_1121_10272_5121.jpeg

Sebenarnya saya tak tega untuk ikut-ikutan membahas Linkin Park, khususnya mediang Chester Bennington. Yang telah berlalu biarlah berlalu, dan semua yang bernyawa pasti akan menemui ajal.  Dan bagi yang menghujat Mas Chester karena tindakan bunuh dirinya, tidakkah Anda tahu kalau Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah berkata,

“Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan”. (HR. Al-Bukhari no. 6516).

Itu berlaku untuk umat Islam, non-muslim, hingga pentolan sekuler sekaliber Mustafa Kemal Ataturk sekalipun. Adab haruslah dijaga sejak dalam pikiran, bukan.

Saya jarang secara militan membela suatu aliran musik, atau mengikuti perkembangan seorang artis, grup musik, atau bahkan idol grup. Beberapa memang pernah singgah di hati saya, semisal Paramore, SO7, AKB48 Family, hingga PKS Via Vallen. Selain nama-nama tersebut, ada satu nama yang menjadi cem-ceman pertama saya, apa lagi kalau bukan band yang dulu pernah bernama Hybrid Theory itu. Ya, Linkin Park.

Pertemuan saya dengan Linkin Park disebabkan oleh suatu kegiatan akademik. Kala itu saya baru masuk SMP. SMP saya hampir semua mata pelajarannya menggunakan pengantar bahasa Inggris. Akan tetapi, karena adanya siswa-siswa seperti saya yang ngomong bahasa Indonesia saja masih kaku, diperlukan adanya kelas matrikulasi alias pembekalan. Di kelas yang berlangsung selama dua bulan tersebut para siswa dicekoki dengan berbagai macam materi bahasa Inggris.

Kelas matrikulasi saya diampu oleh seorang wanita muda. Murid-murid biasa memanggilnya Miss Meta (Mungkin sekarang sudah Mam Meta). Beliau ini sungguh baik, telaten dan suka menangis. Sebabnya Miss Meta menangis? Apa lagi kalau bukan karena teman-teman saya yang bandelnya minta ampun. (Saya dulu pendiam, pemalu dan introvert jadi ga ikutan bandel).

Oke, kembali ke Linkin Park. Saya dulu belum tahu ada band bernama Linkin Park, dan sampai sekarang tidak tahu arti kata “Linkin.” Namun terima kasih pada Miss Meta yang sudah mengenalkan kepada saya walaupun tidak sengaja.

Saya masih ingat betul.

Kala itu hari pertama matrikulasi, dan setelah basa-basi perkenalan diri, kami diberikan tugas oleh Miss Meta. Beliau menyerahkan selembar kertas berisi berbaris-baris kalimat bahasa Inggris dan terdapat kolom-kolom kosong di dalamnya. Di bagian paling atas kertas, bertengger tiga kata,

What I’ve Done

Ternyata kalimat-kalimat itu adalah lirik lagu dari soundtrack Transformers yang kala itu memang sedang hits. Miss Meta menyuruh kami mendengarkan lagu tersebut untuk kemudian melengkapi kolom-kolom yang masih kosong sesuai yang kami dengar.

Lagu pun disetel. Saya yang selama SD biasanya mendengarkan Iwan Fals dan Peterpan tentu tak mengerti apa-apa. Semua kata yang masuk ke kuping saya bagaikan sandi-sandi Enigma yang tak bisa dijabarkan. Teman saya yang memang sudah jago bahasa Inggrisnya dengan luwes mengisi kolom-kolom yang kosong. Ada juga yang memang suka Linkin Park, bisa mengisi kolom-kolom tersebut walau salah ejaannya. Kata “lies” misalnya, dia tulis menjadi “lays.”

Tentu saja itu masih mending daripada saya yang hanya bisa termangu sambil dalam hati menghujat orang Inggris karena bahasa mereka yang tidak konsisten antara cara baca dan tulisannya. Akhirnya, daripada membiarkan kolom-kolom itu kosong, saya mengisi sekenanya sedengar saya saja. Wes. Cukup sudah dengan lagu biadab berbahasa kaum imperialis ini.

Tugas pun dikumpulkan. Miss Meta menjelaskan bahwa tugas ini hanya untuk mengetahui seberapa sih pengetahuan bahasa Inggris kami, terutama dalam budaya populer. Hal tersebut agar beliau bisa menentukan dari mana harus mulai mengajar. Jadi, tak perlu khawatir kalau hasilnya jelek.

Setelah itu, Miss Meta memberikan kunci jawaban dari kuis isi lirik tersebut. Beliau menjelaskan makna di balik lirik itu sambil menampilkan video klipnya. Miss Meta tak lupa menjelaskan korelasi antaralagu dan video klipnya yng ada cuplikan-cuplikan sejarah itu.

Dalam hati saya nggumun (saya memang nggumunan orangnya). Ternyata lagu “indisfarwel” yang kremesek di kuping saya tersebut dapat menyampaikan pesan yang begitu dalam. Saya pun jadi tertarik dengan band Linkin Park ini. Kalau ada kesempatan, saya meminjam mp3 player teman saya, mendengarkan Breaking The Habit dan kameradnya.

Lagu-lagu mereka yang menjadi pintu gerbang saya dalam mempelajari bahasa Inggris secara serius. Sampai pada suatu hari, saya mengetahui bahwa lagu yang biasa saya nyanyikan bersama teman-teman waktu SD dulu dengan lirik

“Solikin mati, ketiban radio~”

Adalah lagu berjudul Crawling.

Lagu yang menceritakan kisah depresi vokalisnya saat tererumus dalam candu narkoba.

Ya, vokalis yang sama yang mengakhiri hidupnya sendiri karena depresi beberapa waktu ini.

Ya, Mas Chester Bennington yang istimewa.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s