Cinta yang Baru Saya Ketahui

Bahasa menjadi jembatan bagi umat manusia untuk mengenali dunia. Bahasa mengambil andil yang besar dalam mempengaruhi sudut pandang, pola pikir, hingga keyakinan manusia.

Salah satu contoh sederhananya, saat masyarakat Indonesia kebanyakan hanya memiliki satu kata untuk mendefinisikan butiran uap air berwarna putih bagaikan kapas yang membeku dengan satu kata saja, yaitu “salju”, orang Eskimo memiliki belasan kosa kata untuk hal itu tergantung konteksnya. Tentu saja hal tersebut akan mempengaruhi bagaimana kita melihat benda putih yang mirip es serut itu.

Contoh lainnya, masyarakat Jawa. Orang Jawa memiliki berbagai macam kosa kata untuk mengilustrasikan “jatuh”, mulai dari njlungup, ndlosor, nggeblak, hingga njungkel. Tiap kata itu memberikan kemudahan penggambaran tentang realita “jatuh.”

Tidak hanya hal-hal kasat mata yang bisa digambarkan dengan keberagaman kosa kata. Hal abstrak yang kata orang sulit untuk digambarkan seperti “cinta” misalnya, juga bisa.

flat800x800075f-u5

Baca lebih lanjut

Iklan

Warkop Cumlaude dan Semangat Pergerakan Kiri

Meskipun saya (sementara ini) berhenti minum kopi, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk main ke salah satu warung kopi hits di dekat area kampus Universitas Indonesia. Warung Kopi itu bernama “Warkop Cumlaude.” Dari namanya saya sudah kental nuansa mahasiswanya, kan? Apakah tingkat kehadiran mahasiswa di tempat ini akan berpengaruh pada prestasi akademiknya?

Tenang~ Itu semua tidak akan saya bahas di sini.

***

Pada petualangan kali ini, saya ditemani oleh (lagi dan lagi) Akbar Rizqi Dhea Habibi.

Sebenarnya tujuan utama kami main ke sana adalah untuk mencari tempat menginap. Karena kebanyakan masjid saat ini digembok setelah sholat isya’, serta warnet dan hotel tidak terlalu bersahabat dengan budget kami, akhirnya kami memilih tempat ini. Baca lebih lanjut

Yang Pertama Yang Istimewa

2016_1121_10272_5121.jpeg

Sebenarnya saya tak tega untuk ikut-ikutan membahas Linkin Park, khususnya mediang Chester Bennington. Yang telah berlalu biarlah berlalu, dan semua yang bernyawa pasti akan menemui ajal.  Dan bagi yang menghujat Mas Chester karena tindakan bunuh dirinya, tidakkah Anda tahu kalau Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah berkata,

“Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan”. (HR. Al-Bukhari no. 6516).

Itu berlaku untuk umat Islam, non-muslim, hingga pentolan sekuler sekaliber Mustafa Kemal Ataturk sekalipun. Adab haruslah dijaga sejak dalam pikiran, bukan.

Baca lebih lanjut

Malioboro dan Pantomim yang Dibubarkan

Karena kemarin lusa gagal nonton Via Vallen, saya jadi lumayan kecewa. Keesokan harinya saya lebih banyak menghabiskan waktu di kost, bukan karena sedih dan meratapi nasib, tapi sibuk benerin rem sepeda.

Malamnya saya pun keluar kandang karena ada keperluan di printshop. Setelah itu, saya tiba-tiba pengen gowes ke Malioboro, sekalian menikmati malam Jogja yang akhir-akhir ini terasa lebih dingin karena rindu angin Muson. Di tempat saya, Tulungagung, hal ini biasa disebut dengan mbediding.

Baca lebih lanjut

Sego Edan yang Membuat Majnun

Pada awal bulan Juli lalu saya pergi ke Malang. Saya sudah lama tidak ke kota ini, terakhir kali ke sana pas SD saat pembinaan olimpiade. Saya justru lebih sering ke Batu, ke tempat wisatanya yang asek-asek tapi ga murah dan tak ramah sumber mata air itu.

14334477_305588923138918_7643624666715652096_n.jpg
Sego Edan (sumber: instagram @ngalamkuliner)

Saya pergi ke Malang untuk ujian kecakapan bahasa Jepang, JLPT. Saya ke sana ditemani Adek yang kebetulan juga sedang ada keperluan. Saya berada di Malang selama beberapa hari sehingga akan sangat disayangkan jika tidak mencicipi kuliner khas “anak kost” Malang. (Bakso sudah mainstream, jadi tidak usah dibahas).

Adik saya memberikan rekomendasi, namanya Sego Edan atau ‘Nasi Gila’ dalam bahasa Indonesia. Dari namanya saja sudah menarik, apalagi katanya harga dan porsinya bersahabat bagi kantong saya.

Baca lebih lanjut

Cara Membuat Lontong Ala Bulek Yuli

Liburan kemarin saya dan adik mendapat tawaran yang cukup langka dari bulek (bibi) saya, yaitu ajakan membuat salah satu makanan pokok favorit saya, lontong, di rumah beliau. Tentu saja kami tak melewatkan kesempatan itu. Hal itu karena, satu, kami ingin tahu rahasia membuat lontong yang enak seperti bikinannya Bulek, dan dua, adik saya ingin menghindari kerjaan yang dimandatkan oleh Ibuk, yaitu menggoreng rengginang.

Sesampainya di tempat Bulek Yuli yang asri, saya dan adik langsung berburu daun pisang untuk membungkus lontong. Berhubung ini di kampung, kami tinggal mencarinya di sekitar rumah Bulek.

lontong
Ilustrasi lontong yang sudah matang (sumber: twitter.com)

Baca lebih lanjut