Teri Tanjung: Sebuah Unboxing

Saya termasuk orang yang jarang pilih-pilih soal makanan. Bagi saya, semua makanan, selama itu halal, berada di kedudukan yang sama. Egaliter pokoknya. Meskipun begitu, tetap saja ada satu-dua hal yang susah meluncur melalui kerongkongan, salah satunya adalah kepala binatang, terutama kepala ikan.

Entah kenapa, memakan kepala ikan bagi saya adalah sebuah tindakan yang mengerikan dan bikin baper.

Lebay banget, kok bisa sampe baper segala?

O, tentu saja. Karena di bagian kepala ikan ada matanya.

Trus?

Mata itu kan jendela hati. Tidak cuma untuk manusia, ikan pun sama. Bisa dibayangkan kamu lagi makan kepala ikan sambil menerawang isi hati si ikan dari celah matanya. Dan di momen saat mata tersebut menatapmu kembali itu, lho… duh… hati ini deg-deg serrr gimana gitu. Ngerti ga sih?

Nga~

Yaudah. Intinya, saya tidak makan kepala ikan, kecuali ikan-ikan tertentu. Dan salah satunya adalah ikan teri. Entah saya yang tidak bisa berempati kepada teri karena ukuran kepalanya yang terlalu kecil, atau karena saya yang terlalu malas untuk memotek kepalanya satu-persatu, biarkan waktu yang menjawab.

Baca lebih lanjut

Iklan

Warkop Cumlaude dan Semangat Pergerakan Kiri

Meskipun saya (sementara ini) berhenti minum kopi, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk main ke salah satu warung kopi hits di dekat area kampus Universitas Indonesia. Warung Kopi itu bernama “Warkop Cumlaude.” Dari namanya saya sudah kental nuansa mahasiswanya, kan? Apakah tingkat kehadiran mahasiswa di tempat ini akan berpengaruh pada prestasi akademiknya?

Tenang~ Itu semua tidak akan saya bahas di sini.

***

Pada petualangan kali ini, saya ditemani oleh (lagi dan lagi) Akbar Rizqi Dhea Habibi.

Sebenarnya tujuan utama kami main ke sana adalah untuk mencari tempat menginap. Karena kebanyakan masjid saat ini digembok setelah sholat isya’, serta warnet dan hotel tidak terlalu bersahabat dengan budget kami, akhirnya kami memilih tempat ini. Baca lebih lanjut

Sego Edan yang Membuat Majnun

Pada awal bulan Juli lalu saya pergi ke Malang. Saya sudah lama tidak ke kota ini, terakhir kali ke sana pas SD saat pembinaan olimpiade. Saya justru lebih sering ke Batu, ke tempat wisatanya yang asek-asek tapi ga murah dan tak ramah sumber mata air itu.

14334477_305588923138918_7643624666715652096_n.jpg
Sego Edan (sumber: instagram @ngalamkuliner)

Saya pergi ke Malang untuk ujian kecakapan bahasa Jepang, JLPT. Saya ke sana ditemani Adek yang kebetulan juga sedang ada keperluan. Saya berada di Malang selama beberapa hari sehingga akan sangat disayangkan jika tidak mencicipi kuliner khas “anak kost” Malang. (Bakso sudah mainstream, jadi tidak usah dibahas).

Adik saya memberikan rekomendasi, namanya Sego Edan atau ‘Nasi Gila’ dalam bahasa Indonesia. Dari namanya saja sudah menarik, apalagi katanya harga dan porsinya bersahabat bagi kantong saya.

Baca lebih lanjut

Cara Membuat Lontong Ala Bulek Yuli

Liburan kemarin saya dan adik mendapat tawaran yang cukup langka dari bulek (bibi) saya, yaitu ajakan membuat salah satu makanan pokok favorit saya, lontong, di rumah beliau. Tentu saja kami tak melewatkan kesempatan itu. Hal itu karena, satu, kami ingin tahu rahasia membuat lontong yang enak seperti bikinannya Bulek, dan dua, adik saya ingin menghindari kerjaan yang dimandatkan oleh Ibuk, yaitu menggoreng rengginang.

Sesampainya di tempat Bulek Yuli yang asri, saya dan adik langsung berburu daun pisang untuk membungkus lontong. Berhubung ini di kampung, kami tinggal mencarinya di sekitar rumah Bulek.

lontong
Ilustrasi lontong yang sudah matang (sumber: twitter.com)

Baca lebih lanjut

Berbuka Bersama Bajingan

Awal Ramadhan ini, saya dua kali berpetualang bersama Rizqi untuk berburu takjil. (bisa dilihat di sini dan di sini, ya). Namun tidak untuk kali ini, saya berbuka sendiri karena Rizqi lagi ada janjian buka bersama.

Alhasil, saya pun mencari tempat makan. Kriteria saya dalam memilih tempat makan sebenarnya cukup sederhana: murah, enak, tur halal. Itu memang kombinasi yang susah untuk ditemukan. Namun, karena saya gampang doyan berbagai macam makanan, dan di Jogja mudah ditemui makanan halal, saya tinggal mencari yang sesuai dengan kritetia satunya lagi. Iya. Murah.

Pada postingan kali ini saya ingin membagikan salah satu warung makan yang masuk dalam kriteria saya.

Baca lebih lanjut

Angkringan Pelunak Hati

Ingin muntab. Akhir-akhir ini hal itulah yang saya rasakan. Jarang sekali saya merasa demikian semenjak lulus SMA.

Ada beberapa faktor yang menurut saya mungkin bisa jadi penyebabnya, dan diantaranya kebanyakan mengenai ISI: isi dompet, isi otak, dan yang paling parah, isi hati.

Kali ini pun isi hati yang menjadi pemicu masalah. Rasa mangkel, kesal, getun jadi satu setelah dimarinase selama beberapa semester dalam sebuah wadah pengap penuh bualan bernama ‘urip’. Rasa mangkel ini timbul setelah saya main ke kampus ‘tetangga’ yang mana sangat sesuai untuk disemati dengan pepatah berikut ini:

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Baca lebih lanjut

Estetika Tubruk

Saya seorang pecinta kopi, memang bukan sekaliber orang-orang yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi beberapa teguknya. Dengan status saya sebagai mahasiswa, plus anak kost, plus marhaen yang acapkali dikaitkan dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, menghargai tiap tetes dari kopi yang saya minum adalah cara terelok saya dalam mencitai kopi.

Di antara berbagai cara meracik kopi yang ada di dunia ini, cara membuat kopi tubruk adalah yang paling sederhana, dan juga paling sesuai dengan saya dan latar belakang saya. Mengutip dari cerpen “Filosofi Kopi” karya Dee Lestari, kopi tubruk digambarkan sebagai berikut,

“Lugu, sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam. Kopi tubruk tidak peduli penampilan, kasar, membuatnya pun sangat cepat. Seolah-olah tidak membutuhkan skill khusus. Tapi tunggu sampai Anda mencium aromanya.” – Ben

Baca lebih lanjut