Maghriban Dua Kali bersama Masjid Jogokariyan

Maghribannya sih cukup sekali, takjil gratisnya aja yang dua kali. Hehe.

***

Ramadhan kali ini saya berkesempatan lagi untuk main ke masjid Jogokariyan. Terakhir kali ke sana adalah Ramadhan tahun lalu (2017), bareng-bareng para anggota “Ganteng-Ganteng Sasjep ‘15” yang kini sudah berikrar untuk tidak lagi unsend message di platform chat manapun. Bedanya, kalau dulu saya ke Jogokariyan untuk cari buka gratisan, kali ini saya ke sana untuk mencari suasana dan buka gratisan saja.

photo_2018-06-06_14-41-35.jpg
Depan masjid Jogokariyan yang dihias lampion. (dok. pribadi)

Baca lebih lanjut

Iklan

Malioboro dan Pantomim yang Dibubarkan

Karena kemarin lusa gagal nonton Via Vallen, saya jadi lumayan kecewa. Keesokan harinya saya lebih banyak menghabiskan waktu di kost, bukan karena sedih dan meratapi nasib, tapi sibuk benerin rem sepeda.

Malamnya saya pun keluar kandang karena ada keperluan di printshop. Setelah itu, saya tiba-tiba pengen gowes ke Malioboro, sekalian menikmati malam Jogja yang akhir-akhir ini terasa lebih dingin karena rindu angin Muson. Di tempat saya, Tulungagung, hal ini biasa disebut dengan mbediding.

Baca lebih lanjut

Tiki-Taka Pulang Kampung

Hubungan saya dengan mudik itu mirip dengan lagunya Naif yang berjudul Benci untuk Mencinta. Selama kurang lebih 10 tahun (hampir setengah dari usia saya) saya habiskan di perantauan. Oleh karena itu, tiap pulang kampung menjadi tradisi yang dengan penuh rasa cinta saya lakukan. Sayangnya, sarana transportasi pas jaman saya SMP dulu itu masih ga sebagus sekarang sehingga bikin saya agak benci untuk melakoninya. Baca lebih lanjut

Nggelandang: Solo

Jarang-jarang saya bisa bangun pagi-pagi. Apalagi beberapa hari sebelumnya keseringan bangun kesiangan. Namun pagi ini berbeda. Mata saya sudah tidak kriyip-kriyip lagi pukul 2.30 pagi.

Pagi itu saya asyik bersiap diri, memaskukkan beberapa keperluan dan uang seadanya, dompet, dan hape yang ter-charge penuh. Hal ini saya lakukan dengan satu niat ingsun:

Nggelandang. Baca lebih lanjut

Sunrise Trip

Apa yang terlintas jika mendengar kata sunrise dan trip? Kebanyakan akan membayangkan soal gunung, pantai, atau area wisata lainnya yang biasanya sudah dibranding sedemikian rupa agar mampu memberikan kesan sebagai tempat paling indah untuk menyaksikan terbitnya sang fajar.

Tapi apakah semua hal yang berbau “matahari terbit” membutuhkan kocek yang tebal atau usaha eksta untuk menikmatinya? Saya kira tidak.

Pada hari Sabtu kemarin (11 Feb 2017), saya diajak oleh dua teman saya, Putri dan Fayna, untuk nggowes alias bersepeda  pagi ke Malioboro. Saya sih ikut-ikut aja karena setiap hari saya bersepeda dan tiap hari pula saya secara ajaib bangun pukul tiga.

Kami pun sepakat untuk berkumpul dulu di daerah Tugu Jogja. Baca lebih lanjut

Wajah Muria: Anjang Sana ke Pameran Tetangga

Dulu…

Dulu banget… Saya bercita-cita menjadi seorang arkeolog. Waktu berlalu, beras pun telah menjadi nasi. Saya justru menjadi mahasiswa yang bertetangga dengan program studi arkeologi.

Meskipun begitu, minat saya terhadap penggalian, eksplorasi, dsj. masih lah ada.

Hari ini (Rabu, 16 November 2016) saya mampir ke sebuah pameran yang diadakan oleh himpunan mahasiswa prodi arkeologi. Mereka menampilkan temuan-temuan yang mereka dapat selama menjelajah gunung Muria dan daerah-daerah sekitarnya.

Dari berbagai macam hal menarik di wilayah kota Jepara tersebut, ada satu hal yang menarik hati saya, yaitu KOPInya. ☺

Baca lebih lanjut

Kenal & Sayang

Kesambet hasutan siapa, saya kemarin malam (23 April 2016) menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh KMHD (Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma) UGM. Acaranya, Dharma Santhi, berupa sebuah diskusi bertemakan “Bersinergi dalam kebhinnekaan.”

Acara ini adalah penutup dari rangkaian acara KMHD dalam beberapa waktu ini. Dimulai dari Try-Out SBMPTN, parade ogoh-ogoh, Nyepi Kampus, sampai pada Dharma Santhi ini. *Saya agak lupa rangkaian acaranya 😐

Baca lebih lanjut