Belajar GIMP: Layer Mask

Bulan Desember tahun lalu, saya memutuskan untuk menggandrungi kembali sistem operasi linux dan perangkat lunak open-souce. Hal ini karena saya sudah tidak ada “tanggungan” lagi untuk memakai perangkat lunak edit-edit gambar propetrietary semacam Photoshop dan CorelDraw. Sebagai gantinya, saya menggunakan GIMP untuk mengolah gambar berbasis bitmap, dan Inkscape untuk mengolah gambar berbasis vector.

Saya beralih menggunakan perangkat lunak open-sorce semata-mata ingin berhenti menggunakan perangkat lunak bajakan. Terlepas polemik halal-haram penggunaan perangkat lunak bajakan, yang saya tak punya kredibilitas untuk membahasnya, ‘hijrah’ saya ini lebih karena dorongan kata hati saya (haish) setelah bertemu teman saya yang programmer.

“Asyem, Tur. Sekarang aku ngerasain susahnya jadi programmer. Udah susah-susah, masih dibajak pula. Kan, kucing.”

Gitu katanya.

Selain alasan sok keren itu, saya juga bisa menjadikannya bahan sesumbar, “iki, lho, aku ngedit’e nggo aplikasi gratisan, ora bajakan, hoho.”

Sungguh hina mulia, bukan?

Telepas dari usaha mengurangi bajak-membajak ini, saya masih suka mengunduh film, ebook, maupun musik secara ilegal. Mohon maafkan hamba yang fakir ini, wahai insan industri kreatif di seluruh dunia. Saya akan kurangi sedikit demi sedikit.

Sedikit demi sedikit, lho, ya. Pelarangan minum khamr saja tidak bisa instant, apalagi urusan bajak membajak ini.

Eh, tapi kata Ustadz Felix Siauw hak cipta hanya milik Allah SWT.

Haa mbuh.

Baca lebih lanjut

Iklan

Mencari Perubahan bersama Ecosia

Perubahan dalam skala global dapat dimulai dengan perubahan kecil dari diri sendiri. Kegiatan yang kita lakukan sehari-sehari, mencari informasi di internet dengan bantuan mesin pencari (search engine) misalnya, jika dilakukan dengan tepat, bisa menjadi satu langkah kecil untuk mengubah dunia.

Hal tersebut bukanlah bualan belaka. Hal inilah yang tengah dilakukan Ecosia, mesin pencari berbasis sosial yang akan menanam pohon saat kita menggunakannya. Iya, Anda tidak salah dengar, ‘menanam pohon’.

Baca lebih lanjut

Cinta yang Baru Saya Ketahui

Bahasa menjadi jembatan bagi umat manusia untuk mengenali dunia. Bahasa mengambil andil yang besar dalam mempengaruhi sudut pandang, pola pikir, hingga keyakinan manusia.

Salah satu contoh sederhananya, saat masyarakat Indonesia kebanyakan hanya memiliki satu kata untuk mendefinisikan butiran uap air berwarna putih bagaikan kapas yang membeku dengan satu kata saja, yaitu “salju”, orang Eskimo memiliki belasan kosa kata untuk hal itu tergantung konteksnya. Tentu saja hal tersebut akan mempengaruhi bagaimana kita melihat benda putih yang mirip es serut itu.

Contoh lainnya, masyarakat Jawa. Orang Jawa memiliki berbagai macam kosa kata untuk mengilustrasikan “jatuh”, mulai dari njlungup, ndlosor, nggeblak, hingga njungkel. Tiap kata itu memberikan kemudahan penggambaran tentang realita “jatuh.”

Tidak hanya hal-hal kasat mata yang bisa digambarkan dengan keberagaman kosa kata. Hal abstrak yang kata orang sulit untuk digambarkan seperti “cinta” misalnya, juga bisa.

flat800x800075f-u5

Baca lebih lanjut

RemixOS: Sebuah Edo Tensei

Mondai

Beberapa pekan terakhir ini banyak hal terjadi. Di saat tugas dan kerjaan melakukan agresinya ke dalam pikiran saya, laptop sekaligus partner saya harus tewas di medan pembantaian karena masalah di organ dalamnya, yaitu Hard Drive-nya mati total, mak pet. Biaya untuk melakukan transplantasi organ juga amat sangat mahal bagi saya, seorang serdadu pendidikan berpangkat rendah yang sedang bertugas di tanah perantauan.

Intinya, saya kelimpungan.

Beberapa solusi alternatif saya coba. Opsi pertama adalah mengetik semua tugas dan kerjaan saya di smartphone, yang lama kelamaan membuat jempol saya kebas. Kemudian saya mencoba menyambungkan keyboard eksternal dengan smartphone saya. Yang saya butuhkan hanya lah membeli kabel USB OTG sebagai konektor. Tetapi, pada akhirnya saya tak jadi beli karena harganya sama dengan biaya saya makan selama 2 minggu. Meminjam laptop teman juga bukan solusi yang tepat karena kebanyakan dari kerjaan saya berlandaskan ide-ide kreatif yang bisa datang dan pergi sewaktu-waktu secara impulsif. Jadi, akan tak beretika lah saya jika menggedor-gedor pintu kosan teman saya jam 1 dini hari cuma untuk menulis puisi. Baca lebih lanjut

Caffeine Nap dengan Secangkir Kopi

Ada dua hal, Kopi dan tidur. Kopi, satu dari sekian banyak hal yang saya suka, dan tidur, satu dari sekian banyak hal yang say butuhkan. Relasi antara kopi dan tidur tidak hanya seperti yang orang-orang tahu pada umumnya. Di mana Jika minum kopi akan berakibat tidak bisa tidur.

Orang-orang juga memanfaatkan kopi dengan cara yang standar, minum kopi secangkir-dua cangkir dan berusaha untuk tetap melek setelah itu. Padahal ada satu trik, di mana dengan melakukan itu, kita bisa mendapatkan Brain Reboot dengan konsumsi kopi (dengan kafeinnya) dan penempatan waktu tidur yang tepat. Cara ini berguna bagi orang-orang yang tidak sempat tidur dan membutuhkan kesegaran ekstra dalam waktu yang singkat.

Begini caranya…

[NB: Ini sudah saya coba sendiri, dan ternyata berhasil (saya juga kaget). Hasilnya mungkin akan berbeda tergantung individu dan tingkat kemageran masing-masing.]

Baca lebih lanjut