RemixOS: Sebuah Edo Tensei

Mondai

Beberapa pekan terakhir ini banyak hal terjadi. Di saat tugas dan kerjaan melakukan agresinya ke dalam pikiran saya, laptop sekaligus partner saya harus tewas di medan pembantaian karena masalah di organ dalamnya, yaitu Hard Drive-nya mati total, mak pet. Biaya untuk melakukan transplantasi organ juga amat sangat mahal bagi saya, seorang serdadu pendidikan berpangkat rendah yang sedang bertugas di tanah perantauan.

Intinya, saya kelimpungan.

Beberapa solusi alternatif saya coba. Opsi pertama adalah mengetik semua tugas dan kerjaan saya di smartphone, yang lama kelamaan membuat jempol saya kebas. Kemudian saya mencoba menyambungkan keyboard eksternal dengan smartphone saya. Yang saya butuhkan hanya lah membeli kabel USB OTG sebagai konektor. Tetapi, pada akhirnya saya tak jadi beli karena harganya sama dengan biaya saya makan selama 2 minggu. Meminjam laptop teman juga bukan solusi yang tepat karena kebanyakan dari kerjaan saya berlandaskan ide-ide kreatif yang bisa datang dan pergi sewaktu-waktu secara impulsif. Jadi, akan tak beretika lah saya jika menggedor-gedor pintu kosan teman saya jam 1 dini hari cuma untuk menulis puisi. Baca lebih lanjut

Caffeine Nap dengan Secangkir Kopi

Ada dua hal, Kopi dan tidur. Kopi, satu dari sekian banyak hal yang saya suka, dan tidur, satu dari sekian banyak hal yang say butuhkan. Relasi antara kopi dan tidur tidak hanya seperti yang orang-orang tahu pada umumnya. Di mana Jika minum kopi akan berakibat tidak bisa tidur.

Orang-orang juga memanfaatkan kopi dengan cara yang standar, minum kopi secangkir-dua cangkir dan berusaha untuk tetap melek setelah itu. Padahal ada satu trik, di mana dengan melakukan itu, kita bisa mendapatkan Brain Reboot dengan konsumsi kopi (dengan kafeinnya) dan penempatan waktu tidur yang tepat. Cara ini berguna bagi orang-orang yang tidak sempat tidur dan membutuhkan kesegaran ekstra dalam waktu yang singkat.

Begini caranya…

[NB: Ini sudah saya coba sendiri, dan ternyata berhasil (saya juga kaget). Hasilnya mungkin akan berbeda tergantung individu dan tingkat kemageran masing-masing.]

Baca lebih lanjut

#JurnalLinuxKu: #6 Aplikasi Alternatif

Memutuskan untuk terjun ke dunia open-source sudah pasti harus siap dengan perubahan yang akan di alami, terutama dalam pilhan aplikasi yang digunakan. Sebagian besar aplikasi yang kita gunakan sehari-hari adalah produk proprietary yang biasanya hanya ditemukan di ekosistem Windows atau OSX sehingga para pengguna distro linux harus (atau ingin) memakai aplikasi yang ada pada ekosistem linux.

Pada postingan ini saya ingin membahas aplikasi-aplikasi alternatif yang bisa menjadi padanan dari aplikasi proprietary yang ada. Hal ini dapat memberikan gambaran bagi siapa-siap yang berniat untuk hijrah dan masih belum yakin apakah kebutuhannya akan terpenuhi dengan pilihan aplikasi alternatif yang ada. Mohon diingat bahwa pilihan yang saya buat cenderung personal dan bisa diperbaharui sewaktu-waktu.

Baca lebih lanjut

#JurnalLinuxKu: #5 Huruf Ajaib

Ya, saya sekarang tengah menempuh pendidikan di jurusan Sastra Jepang di suatu kampus (yang katanya) kerakyatan di sebuah Daerah (yang semoga masih) Istimewa. Sebagai seorang yang belajar bahasa Jepang, tentu saja tidak akan jauh-jauh dari yang namanya huruf jepang (hiragana dan katakana), dan huruf Cina (kanji).

Lalu, bagaimana dengan support untuk huruf-huruf ini di sistem operasi berbasis linux? Ternyata tak sesusah yang dibayangkan. Yang dibutuhkan hanyalah mengganti input-method standar menjadi sesuai dengan yang kita butuhkan.

Baca lebih lanjut

#JurnalLinuxKu: #4 Kendala

Memang dalam beberapa dekade ini penggunaan sistem operasi berbasis Linux sudah sangat mudah dan praktis. Akan tetapi, hal tersebut tidak menghalangi munculnya masalah-masalah yang bisa muncul secara tak terduga maupun masalah-masalah yang sudah menjadi “langganan.”

Begitu juga yang terjadi pada saya saat menginstall Xubuntu di laptop tercinta. Masalah pertama, dan sudah jadi langganan adalah tombol fungsi (tombol shortcut fn + f1-f12) yang tidak bekerja dengan benar. Dalam kasus ini, tombol pengatur brightness dan wifi laptop saya tidak bekerja.

Baca lebih lanjut