Permisivitas terhadap Pelecehan Seksual, Pelecehan terhadap Akal Sehat Kita

 Biasanya saya membuat postingan yang bercanda, tapi maaf, tidak untuk kali ini.

Beberapa waktu ini linimasa dihebohkan dengan pemberitaan pelecehan seksual secara daring (online) yang dialami oleh Via Vallen. Via mengunggah kejadian yang ia alami, dan menjadi viral. Lalu, seperti biasa, para warganet dengan segala kenaifannya, ya, kok masih ada yang nyinyir. Banyak yang cewek pula. Situ sehat?

Selengkapnya, bisa sampeyan sekalian baca di artikel karya Mas Nuran Wibisono ini. Tabik, Mas.

Baca lebih lanjut

Iklan

Makan Daging Anjing? Apa Salahnya Sih?

Yang dipermasalahkan itu tindakan mengonsumsi daging anjingnya, atau metode dalam proses penyediaan dagingnya, sih? Kok situ ngatur-ngatur.

Mohon membacanya jangan sambil sepaneng, ya. Hehe.

***

Artikel ini saya tulis sebagai tanggapan untuk artikel WowShack mengenai gerakan para selebritis yang ingin “seluruh Indonesia” bebas dari perdagangan dan konsumsi daging anjing.

Baca lebih lanjut

Internetan Terus, Gedenya Mau Jadi Apa?

“Drrrrt… Drrrrt… Drrrrt,” smartphone Smartfren saya yang tidak smart-smart amat bergetar beberapa kali pertanda ada pesan masuk. Gawai saya akhirnya menunjukkan aktivitasnya setelah beberapa jam terakhir hanya terbujur kaku di atas meja.

Dengan sigap saya menyambar gawai tersebut, berharap akan mendapati pesan dari bebeb Shopee di notifikasi. Namun apa daya, meski pucuk dicinta, ulam tak tentu tiba. Saya justru mendapati pemberitahuan bahwa paket internet saya perlu diperpanjang.

Oke.

***

Baca lebih lanjut

Susahnya Untuk Menjadi Hokage Kalau Cuma Lulusan Sastra Jepang

11192681_1464403403851245_2022716915_n.jpg
Seorang Mahasiswa Sastra Jepang tengah meningkatkan kualitas akademiknya. ( sumber: https://www.instagram.com/akbarizuki/ )

“Kowe saiki wes iso nonton anime ra nggo subtitle berarti, Tur?”

“Ra.”

***
Pas liburan semester gini, paling enak ya bikin hoax membangun sambat soal jurusan kuliah wkwkwkwk.
(Semoga postingan ini tidak dibaca dosen saya hehe) Baca lebih lanjut

KoorLap: Id, Ego, Superego

photo_2017-11-29_02-49-43.jpg

Semua itu berawal di suatu sore yang lumayan berangin. Angin bertiup kencan ke muka saya, yang kala itu diboncengkan oleh Suigetsu (FYI: sekarang Suigetsu sudah fully booked, sadel belakang kuda besinya sudah susah untuk dipantati oleh orang lain).

Saya masih ingat betul, saat itu saya dan beberapa teman baru saja melaksanakan ibadah sholat ashar setelah seharian melakukan survey lokasi untuk Jajaje (jalan-jalan Himaje), sebuah proker ena-ena milik himpunan mahasiswa Sastra Jepang yang justru sampai saat ini saya belum kesampaian untuk ikutan. *hiks Baca lebih lanjut

Yang Pertama Yang Istimewa

2016_1121_10272_5121.jpeg

Sebenarnya saya tak tega untuk ikut-ikutan membahas Linkin Park, khususnya mediang Chester Bennington. Yang telah berlalu biarlah berlalu, dan semua yang bernyawa pasti akan menemui ajal.  Dan bagi yang menghujat Mas Chester karena tindakan bunuh dirinya, tidakkah Anda tahu kalau Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah berkata,

“Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan”. (HR. Al-Bukhari no. 6516).

Itu berlaku untuk umat Islam, non-muslim, hingga pentolan sekuler sekaliber Mustafa Kemal Ataturk sekalipun. Adab haruslah dijaga sejak dalam pikiran, bukan.

Baca lebih lanjut

Saya Tidak Salah Pilih Kost-Kostan

Berpindah-pindah menjadi hal yang lumrah bagi saya. Terbukti dari lokasi SD, SMP, SMA hingga Universitas tidak berada dalam satu desa yang sama. Bukan hanya tempat saya belajar yang berpindah-pindah, tempat saya bernaung selama kuliah di Jogja pun juga gonta-ganti.

Awal kedatangan saya di Jogja, saya tinggal di sebuah asrama di Pogung Baru. Tempatnya deket dengan UGM, tapi jauh dari fakultas saya. Jalanannya pun penuh dengan polisi tidur yang sungguh aduhai jendolannya. Tapi itu tidak berlangsung lama, cuma satu semester. Lalu saya berhijrah ke Pogung Lor, lebih jauh lagi jaraknya dengan kampus daripada tempat bernaung saya yang lama. Di Pogung Lor banyak tempat makan yang enak-enak. Meskipun bergitu, banyak tempat makan yang belum pernah saya cicipi, Martabak Pandega misalnya. Di Pogung Lor ini saya mengontrak rumah bersama dengan anak-anak dari kampung halaman saya, Tulungagung.

Kost Exclusive Jogja
Kost Ena-Ena (sumber: twitter.com/maleo_kostel)

Akan tetapi, akhir semester lalu kontrak saya dengan rumah kontrakan yang di Pogung Lor sudah hampir habis. Saya tidak berniat memperpanjang kontrak tersebut karena kasihan sama sepeda saya, dan saya juga ingin merasakan tempat bernaung yang belum pernah saya coba – asrama dan kontrakan sudah pernah – yaitu sistem kost-kostan. Oleh karena itu, saya berniat mencari tempat bernaung yang baru. Baca lebih lanjut