Yang Pertama Yang Istimewa

2016_1121_10272_5121.jpeg

Sebenarnya saya tak tega untuk ikut-ikutan membahas Linkin Park, khususnya mediang Chester Bennington. Yang telah berlalu biarlah berlalu, dan semua yang bernyawa pasti akan menemui ajal.  Dan bagi yang menghujat Mas Chester karena tindakan bunuh dirinya, tidakkah Anda tahu kalau Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah berkata,

“Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan”. (HR. Al-Bukhari no. 6516).

Itu berlaku untuk umat Islam, non-muslim, hingga pentolan sekuler sekaliber Mustafa Kemal Ataturk sekalipun. Adab haruslah dijaga sejak dalam pikiran, bukan.

Baca lebih lanjut

Saya Tidak Salah Pilih Kost-Kostan

Berpindah-pindah menjadi hal yang lumrah bagi saya. Terbukti dari lokasi SD, SMP, SMA hingga Universitas tidak berada dalam satu desa yang sama. Bukan hanya tempat saya belajar yang berpindah-pindah, tempat saya bernaung selama kuliah di Jogja pun juga gonta-ganti.

Awal kedatangan saya di Jogja, saya tinggal di sebuah asrama di Pogung Baru. Tempatnya deket dengan UGM, tapi jauh dari fakultas saya. Jalanannya pun penuh dengan polisi tidur yang sungguh aduhai jendolannya. Tapi itu tidak berlangsung lama, cuma satu semester. Lalu saya berhijrah ke Pogung Lor, lebih jauh lagi jaraknya dengan kampus daripada tempat bernaung saya yang lama. Di Pogung Lor banyak tempat makan yang enak-enak. Meskipun bergitu, banyak tempat makan yang belum pernah saya cicipi, Martabak Pandega misalnya. Di Pogung Lor ini saya mengontrak rumah bersama dengan anak-anak dari kampung halaman saya, Tulungagung.

Kost Exclusive Jogja
Kost Ena-Ena (sumber: twitter.com/maleo_kostel)

Akan tetapi, akhir semester lalu kontrak saya dengan rumah kontrakan yang di Pogung Lor sudah hampir habis. Saya tidak berniat memperpanjang kontrak tersebut karena kasihan sama sepeda saya, dan saya juga ingin merasakan tempat bernaung yang belum pernah saya coba – asrama dan kontrakan sudah pernah – yaitu sistem kost-kostan. Oleh karena itu, saya berniat mencari tempat bernaung yang baru. Baca lebih lanjut

Cemburu: Sebuah Kajian Kurang Ilmiah

Ingin kubunuh pacarmu
Saat dia cium bibir merahmu
Di depan kedua mataku
Hatiku terbakar jadinya, Cantik
Aku cemburu

  • Dewa 19, (Cemburu, 2000)

Kenapa band yang dulu berisikan Ahmad Dhani yang masih kinyis-kinyis dan belum hobi bikin sumpah-sumpah nyeleneh pas pemilu ini menggambarkan rasa cemburu dengan sedemikian rupa?

Hmmm…
Mungkin begini… Baca lebih lanjut

Balada HiLo dan Stigma Tinggi Badan

Saya lagi suka minum HiLo. Yang kecil, sachetan 14g. Alasannya? Bukan karena pengen tambah tinggi, tapi karena itu produk susu yang sesuai dengan kriteria saya, yaitu enak, halal, dan murah. Saya sudah pernah mencoba produk-produk yang lain, namun memangnya ada yang lebih bagus dari HiLo? Yang lebih mahal sih banyak.

Oke, cukup segitu aja endorse-nya.

Kalau membicarakan soal susu yang kaya akan kalsium yang dikenal masyarakat sebagai minuman peninggi badan ini, saya jadi teringat teman saya waktu di sekolah berasrama. Demi keamanan privasi, sebut saja namanya Sugeng.

Baca lebih lanjut

Nama dan Kenapa

Di linimasa media sosial saya lagi rame beredar postingan dua orang jabang bayi yang dinamai oleh orangtuanya dengan nama yang “luar biasa.” Keduanya dinamai berdasarkan dua ninja legendaris dalam serial animasi Jepang (anime) Naruto.

Saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah para orang tua dari dedek-dedek ini adalah salah satu penganut alirannya William Shakespeare, yang mengatakan,

Apalah arti sebuah nama.

Hmmm…
Berbeda dengan pendapat beliau yang seorang sastrawan mahsyur dan juga tuan tanah yang kejam ini, saya menganggap nama sebagai sesuatu yang berharga. Nama panggilan saya, dari lahir sampai saat ini sudah gonta-ganti berkali-kali; Dagus, Bagus, Guntur, Bagas, Bagus (lagi), Gustur, Bagus (lagi), dan akhirnya kembali lagi ke Guntur. Dari setiap nama itu, terdapat kisah di baliknya. Baca lebih lanjut

Mengais Bacaan

Saya tengah berusaha mengurangi penggunaan gawai maupun akses internet secara berlebihan. Salah satunya dengan membumihanguskan aplikasi “instagram” dari gawai saya. Memang itu tidak serta merta membuat saya terdetoksifikasi dari pengaruh media sosial yang lain, tetapi paling tidak saya sudah mengurangi sumber penguras kuota internet saya. Penghematan pemakaian kuota internet yang mahal sama halnya dengan menghemat pengeluaran bulanan. Sebuah kabar baik untuk anak kost yang marhaen ini.

Hal lain yang saya lakukan untuk mengurangi tingkat akses internet adalah dengan tidak membawanya ke meja makan. Setiap kali pergi ke warung, burjo, angkringan, Sushi Tei, Ai Royal Unagi, lesehan, dsj., saya berusaha (kadang gagal, sih) untuk tidak mengeluarkan gawai dari kantong.

Lalu, apa yang saya lakukan sambil menunggu pesanan jadi? Baca lebih lanjut

Tamparan Kasih Sayang dari Tuhan Maha Pengasih

Ada kalanya saya berpikir dan merasa bahwa Tuhan “melepas” saya, membiarkan saya berkutat dengan masalah-masalah saya sendiri di dunia ini.

Padahal, sebenarnya sayalah yang lupa, abai bahwa Tuhan selalu memperhatikan gerak-gerik, tindak-tanduk, dan segala lompatan neuron yang ada di dalam otak saya. Apalagi hal-hal yang terbersit di dalam hati.

Saya tidak tahu apakah hati saya sudah terlalu pekat terkotori masalah duniawi sehingga tak mampu lagi menyaring mana yang diridhai oleh Tuhan mana yang tidak.

Namun, Tuhan Maha Pengasih. Tuhan masih dan akan terus mau memberi peringatan pada saya melalui seorang hamba baik hati yang ada di dekat saya. Memberi “tamparan” pada kenaifan dan ketololan saya.

Tamparan tersebut adalah “tamparan kasih sayang” terbaik yang mampu diterima oleh seorang hamba. Tamparan terlembut yang mampu membukakan mata yang terlalu lama terkatup dijahit benang nafsu duniawi.

Tuhan Maha Pengasih, dari awal dan sampai seterusnya akan seperti itu.

Dan bagi seorang hamba yang oleh kuasa-Nya memberikan “tamparan” termanis yang pernah saya terima, semoga engkau diridhai oleh Tuhan Maha Pengasih.

Amin.