Saya Tidak Salah Pilih Kost-Kostan

Berpindah-pindah menjadi hal yang lumrah bagi saya. Terbukti dari lokasi SD, SMP, SMA hingga Universitas tidak berada dalam satu desa yang sama. Bukan hanya tempat saya belajar yang berpindah-pindah, tempat saya bernaung selama kuliah di Jogja pun juga gonta-ganti.

Awal kedatangan saya di Jogja, saya tinggal di sebuah asrama di Pogung Baru. Tempatnya deket dengan UGM, tapi jauh dari fakultas saya. Jalanannya pun penuh dengan polisi tidur yang sungguh aduhai jendolannya. Tapi itu tidak berlangsung lama, cuma satu semester. Lalu saya berhijrah ke Pogung Lor, lebih jauh lagi jaraknya dengan kampus daripada tempat bernaung saya yang lama. Di Pogung Lor banyak tempat makan yang enak-enak. Meskipun bergitu, banyak tempat makan yang belum pernah saya cicipi, Martabak Pandega misalnya. Di Pogung Lor ini saya mengontrak rumah bersama dengan anak-anak dari kampung halaman saya, Tulungagung.

Kost Exclusive Jogja
Kost Ena-Ena (sumber: twitter.com/maleo_kostel)

Akan tetapi, akhir semester lalu kontrak saya dengan rumah kontrakan yang di Pogung Lor sudah hampir habis. Saya tidak berniat memperpanjang kontrak tersebut karena kasihan sama sepeda saya, dan saya juga ingin merasakan tempat bernaung yang belum pernah saya coba – asrama dan kontrakan sudah pernah – yaitu sistem kost-kostan. Oleh karena itu, saya berniat mencari tempat bernaung yang baru. Baca lebih lanjut

Iklan

Tiki-Taka Pulang Kampung

Hubungan saya dengan mudik itu mirip dengan lagunya Naif yang berjudul Benci untuk Mencinta. Selama kurang lebih 10 tahun (hampir setengah dari usia saya) saya habiskan di perantauan. Oleh karena itu, tiap pulang kampung menjadi tradisi yang dengan penuh rasa cinta saya lakukan. Sayangnya, sarana transportasi pas jaman saya SMP dulu itu masih ga sebagus sekarang sehingga bikin saya agak benci untuk melakoninya. Baca lebih lanjut

Cemburu: Sebuah Kajian Kurang Ilmiah

Ingin kubunuh pacarmu
Saat dia cium bibir merahmu
Di depan kedua mataku
Hatiku terbakar jadinya, Cantik
Aku cemburu

  • Dewa 19, (Cemburu, 2000)

Kenapa band yang dulu berisikan Ahmad Dhani yang masih kinyis-kinyis dan belum hobi bikin sumpah-sumpah nyeleneh pas pemilu ini menggambarkan rasa cemburu dengan sedemikian rupa?

Hmmm…
Mungkin begini… Baca lebih lanjut

Balada HiLo dan Stigma Tinggi Badan

Saya lagi suka minum HiLo. Yang kecil, sachetan 14g. Alasannya? Bukan karena pengen tambah tinggi, tapi karena itu produk susu yang sesuai dengan kriteria saya, yaitu enak, halal, dan murah. Saya sudah pernah mencoba produk-produk yang lain, namun memangnya ada yang lebih bagus dari HiLo? Yang lebih mahal sih banyak.

Oke, cukup segitu aja endorse-nya.

Kalau membicarakan soal susu yang kaya akan kalsium yang dikenal masyarakat sebagai minuman peninggi badan ini, saya jadi teringat teman saya waktu di sekolah berasrama. Demi keamanan privasi, sebut saja namanya Sugeng.

Baca lebih lanjut

Berbuka Bersama Bajingan

Awal Ramadhan ini, saya dua kali berpetualang bersama Rizqi untuk berburu takjil. (bisa dilihat di sini dan di sini, ya). Namun tidak untuk kali ini, saya berbuka sendiri karena Rizqi lagi ada janjian buka bersama.

Alhasil, saya pun mencari tempat makan. Kriteria saya dalam memilih tempat makan sebenarnya cukup sederhana: murah, enak, tur halal. Itu memang kombinasi yang susah untuk ditemukan. Namun, karena saya gampang doyan berbagai macam makanan, dan di Jogja mudah ditemui makanan halal, saya tinggal mencari yang sesuai dengan kritetia satunya lagi. Iya. Murah.

Pada postingan kali ini saya ingin membagikan salah satu warung makan yang masuk dalam kriteria saya.

Baca lebih lanjut

Nama dan Kenapa

Di linimasa media sosial saya lagi rame beredar postingan dua orang jabang bayi yang dinamai oleh orangtuanya dengan nama yang “luar biasa.” Keduanya dinamai berdasarkan dua ninja legendaris dalam serial animasi Jepang (anime) Naruto.

Saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah para orang tua dari dedek-dedek ini adalah salah satu penganut alirannya William Shakespeare, yang mengatakan,

Apalah arti sebuah nama.

Hmmm…
Berbeda dengan pendapat beliau yang seorang sastrawan mahsyur dan juga tuan tanah yang kejam ini, saya menganggap nama sebagai sesuatu yang berharga. Nama panggilan saya, dari lahir sampai saat ini sudah gonta-ganti berkali-kali; Dagus, Bagus, Guntur, Bagas, Bagus (lagi), Gustur, Bagus (lagi), dan akhirnya kembali lagi ke Guntur. Dari setiap nama itu, terdapat kisah di baliknya. Baca lebih lanjut